Perempuan: Sebuah Cerita #1

“Untuk oleh-oleh,” katanya, “Masa main sampai sini, pulang bawa tangan kosong.”

hijab

Perempuan ini, salah satu dari sekian perempuan yang pernah kutemui, mengajakku naik motor ke tukang jual teri di utara dermaga. Ia membawaku ke beberapa penjual teri tangan pertama, yang menerima langsung dari nelayan—biasanya tetangga-tetangganya sendiri. Seorang paruh baya, laki-laki, mengkomando dua laki-laki lain menata tumpukan kardus berisi teri ke atas mobil pick-up.

Mereka saling menyapa, assalamu alaikum, menanyakan kabar hari ini, dan membahas cuaca di laut beberapa hari belakangan. Sepertinya itu cara “bertamu” yang lumrah dilakukan di kampung ini. Aku mengangguk-angguk kecil—reaksi tanpa sadar ketika memutuskan untuk mengingat sesuatu dengan sepenuh hati—tanpa ada siapapun tahu, sambil memandangi punggung si pick-up yang semakin penuh di sampingku. Bau amis-asin khas ikan yang diawetkan ini menyebar ke sekelilingku.

“Teri putih ada?” tanya Perempuan pada lelaki paruh baya itu setelah mereka saling bertukar sapa dengan ramai.

“Wah, habis semua yang hitam. Tinggal putih saja,” jawabnya. Nadanya sedikit kecewa. Kemudian ia menunjuk kotak segiempat berisi ribuan atau jutaan teri putih di sampingnya, “Ini semua, masih segar nih!” Nadanya bersemangat.

Perempuan itu memandangku, mendapati aku masih melongo takjub dengan suasana di tempat pengepul teri ini. “Gimana? Teri putih ndak apa-apa?”

Aku mengangguk, “Boleh. Setengah kilo sudah sangat cukup.”

Kami kembali dengan teri, dimasukkan dalam kantong plastik warna merah.

Perjalanan kami melewati sebuah dermaga kecil tempat kapal-kapal nelayan lokal bersauh. Kebanyakan adalah orang bajau yang berkeluarga dan menetap di kampung ini. Jalan akan gelap menjelang malam, sehingga kami harus cepat kembali ke rumah.

Pantai itu menghadap sisi barat pulau—tepat untuk menikmati matahari yang tenggelam dan berbaring memandang bintang setelahnya. Aku dan temanku memanfaatkan kesunyiannya untuk merenung, berefleksi, kadang meratapi diri sendiri.

Di kampung yang indah ini, ada orang Jawa dan orang Bajau, hidup berdampingan. Masyarakat Bajau yang menetap di sini bisa diketahui dari logatnya yang mirip orang Makassar dan yang jelas tidak medhok. Perjodohan masih lumrah di sini. Syukur bila jodohnya baik hati. Bila tidak, hubungan keluarga bisa kacau.

Perempuan harus berjuang agar kedua anaknya bisa bertahan hidup hingga mereka dewasa. Suaminya entah pergi ke mana. Bukankah bikin anak itu butuh dua orang? Mengapa dia sendiri yang harus mengurusnya?

“Anak itu kan, titipan Tuhan,” katanya.

Andai suaminya menyadari hal yang sama.

 

*tulisan ini sebelumnya saya unggah di tumblr, tetapi Pemerintah Indonesia yang cermat luarbiasa telah membatasi akses terhadap situs tersebut dari provider internet Indonesia, sehingga saya berniat memindahkan tulisan-tulisan saya ke blog ini.

Advertisements

Borobudur

Tentang mempertahankan suatu yang telah tua, seperti borobudur dan ritual-ritual, mengingatkan kita pada asal-usul kita, atau asal-usul yang kita percayai.

Karena dengannya kita hidup lebih percaya diri, selain untuk memaknai kehidupan yang lampau.

Kitapun akan menyadari, apa yang kita lakukan, how big it seems, life goes on. Really, nothing special in the end.

Jadilah baik, berusahalah dengan baik. Itulah pesannya.

30 Paspor, Puisi dan Penyelidikan

Ini bukan review buku. Ini adalah tulisan acak tentang apa saja yang sudah saya baca selama bulan Juli ini, dan kebetulan, cocok untuk menemani kita jalan-jalan (kecuali nomor 4), atau dinikmati untuk semakin meningkatkan semangat menjelajah bumi.

  1. 30 Paspor di Kelas Sang Profesor (J.S. Khairen)
    23293200

    Sumber gambar: Goodreads

    Saya sedang membaca buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. Sinopsis di belakang buku-nya menarik dan tidak sabar untuk membuka lembar demi lembar. Masalahnya, karena bukunya bagus, kadang sayang untuk cepat-cepat diselesaikan.
    Lepas dari itu, buku ini menyenangkan untuk dibaca, mendorong semangat belajar yang mulai redup jadi bersinar lagi, menyadarkan saya bahwa “jalan-jalan” selama ini yang orang mungkin lihat hanya sekadar main, sebenarnya memberi makna lebih bagi hidup banyak orang, termasuk saya, yang tidak bisa saya dapat dari ruang kelas.

  2. Detective Conan (Gosho Aoyama)
    23645685

    Sumber gambar: Goodreads

    Saya sudah menggemari Conan sejak SD (haha). Dan sekarang lebih sering membacanya di internet, karena episode-nya lebih cepat keluar daripada versi cetak. Membaca versi cetak sebenarnya lebih enak, mata tidak cepat lelah, bisa dibawa ke mana-mana, dan tidak perlu internet. Dan poin plusnya adalah, buku ini komik. Ngga pusing baca tulisan melulu!

  3. Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (Joko Pinurbo)
    30531785

    Sumber gambar: Goodreads

    Ini adalah buku kumpulan puisi. Isinya hmm, haha, wow, seru. Saya suka membaca buku puisi yang bagus, karena hidup terasa lebih syahdu dengan puisi. Judul puisi-puisi Joko Pinurbo juga tidak biasa, seperti ‘Celana’ contohnya. Selagi menunggu penerbangan atau untuk sekadar baca-baca, buku ini pilihan yang oke. Pastikan selera humor tetap terjaga. Yah, baca aja deh.

  4. Air Crash Investigation (National Geographic TV)
    maxresdefault

    Sumber gambar: Youtube

    Sebenarnya saya tidak “membaca” tapi menonton. Membaca subtitle mungkin lebih tepat ya (hahaha). Air Crash Investigation bercerita tentang penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat. Setiap episode memuat cerita yang berbeda dan kadang penemuan yang membuat saya dan Azka ber-“wooow”-ria. Kadang, hanya diperlukan satu kesalahan kecil untuk akibat yang sangat fatal. Tetapi dari serial ini saya belajar bahwa: (1) Akibat yang fatal itu membawa pelajaran untuk perkembangan dunia di masa depan; dan (2) Dalam dunia aviasi, kecelakaan selalu diakibatkan oleh banyak faktor, tidak mungkin hanya 1 faktor saja.

    Pada awalnya, acara ini memang membuat saya lebih waswas ketika naik pesawat. Semakin saya menonton banyak episode, semakin saya mengerti bahwa transportasi udara adalah yang paling aman di antara semua jalur transportasi. Kompleksnya sistem dan mesin, banyaknya orang yang terlibat, dan ketatnya peraturan dan pengawasan membuat saya semakin yakin bahwa dunia penerbangan sekarang jauh lebih baik.

 

Begitulah. Semoga bermanfaat dan have a nice day!

 

What Will You Choose?

20170303_183504

May we make a good choice

During our trip at Sumba-Bali in early March, I met strangers—now acquaintances, who seemed to left deep impressions to us (Azka, Boni, me). It is that every time we part, they were all saying similar things, separately.

“I hope you will make good choice ahead.”

“I hope your life will be full of great choices.”

They somehow imply that this life is about our choices. Where you want to be, what you want to be, how you want to be. And those with all other questions will test our courage in taking risk in this life. Bravery, like people say.

What will you choose?

For us, we choose happiness, for everyone.