On The Way To Haharu

Sekitar jam 10, kami selesai berkemas—dengan malas, tentu!—dan memulai perjalanan hari itu.

Azka, Boni dan aku sudah menyepakati hasil diskusi sekitar 30 menit lalu: kami akan ke arah Haharu, mencari the road to Kalamba. Hal pertama disarankan Anne, seorang cewek Australia yang kami temui saat sarapan di teras pusat villa (karena memang di situlah restoran-nya). Ia datang ke sini untuk menemui partner organisasi sosial-nya, yang memiliki program peningkatan pendapatan di Haharu, dan ia tahu sedikit tentang Kalamba.

Boni menemukan Kalamba di media sosial dan, oh, betapa foto itu kelihatan tidak nyata!

Continue reading

Advertisements

Morinda di Sumba Timur

Aku duduk selonjor di teras. Azka memandang kosong ke depan, dengan kaki-kaki terselip di antara sekat pagar. Boni bersila di kursi. Firman dan Om Bai sudah tiba di penginapan kami jam 9.

Mereka meminta maaf karena bangun terlambat hingga tidak bisa datang pagi sekali seperti yang dijanjikan semalam. Kami buru-buru berkata bahwa hal itu bukanlah jadi masalah. Morinda memberikan kami sambutan meriah di pagi hari.

Continue reading

Gili Gili Gimana Gitu

“Kring…kring…,” dering “klakson” dengan suara khas klak klak sebuah cidomo terdengar dari belakang. Para pengendara sepeda (pengayuh sepeda mungkin lebih tepatnya) di depannya menepi. Kuda penarik cidomo melaju menyalip, dan sepeda-sepeda kembali ke jalurnya semula.

Saya berada di Gili Trawangan. Pulau yang touristy banget dan terkenal seantero jagat raya (ngga juga sih..). Berada di sana seperti berada tidak-di-Indonesia. Di pinggir jalan tepi pantai, wisatawan asing lebih banyak daripada wisatawan domestik. Saya ke sini murni karena penasaran dengan pulau mungil ini, dan cara terbaik untuk menikmatinya adalah dengan bersepeda keliling pulau.

Continue reading

Before Lombok

(Hai! Ini adalah pembuka dari rangkaian tulisan (Perjalanan Lombok 2017)

Pulau di sebelah timur Bali, yang akhir-akhir ini semakin memenuhi pikiran saya. Lombok disebut-sebut dalam iklan “Ok Google”, hadiah undian Gramedia, bonus beli rumah dengan DP tertentu di Jogja, diskon boarding pass A*r*s*a, dan lain lain lainnya. Kurang ngehits apa coba?

Saya dan Firman sengaja membeli tiket penerbangan pukul 22.50 WIB dari Jakarta ke Bali. Tidak langsung ke Lombok, karena harganya, alamak, muahalll (maklum, masih saat-saat libur lebaran, suasana mudik!). Tiket ke Bali pada malam itu exceptionally expensive, masyaAllah, astaghfirullah, bisa 2x lipat tiket biasa, tapi masih lebih murah daripada ke Lombok langsung. Dari Terminal 2 Soetta, meluncur lah kami ke Denpasar. Pesawat pun tiba beberapa menit lebih awal dari jadwal (wooow…thanks AirAsia!).

Continue reading

Hari Pertama di Belitung

Sudah beberapa bulan yang lalu saya ke Belitung dan sekitarnya, tapi baru sekarang sempat menulis. Bukan tidak ada waktu, hanya tidak ada niat. Maka begitu niat datang, saya sandera dia sampai paling tidak cerita pertama selesai saya kerjakan. Semoga hari kalian menyenangkan.

There

Awalnya, Mba Elly mengajak saya bermain ke Karimunjawa. Waktu itu kurang dari sebulan sebelum Idul Fitri. Kami berencana memanfaatkan libur panjang kantor untuk backpacking ria ke dunia baru.

“Yang lainnya Mba, bulan berikutnya aku mau ke Karimunjawa bareng teman-teman SMP,” kata saya waktu itu. Memang, rencananya akhir Agustus saya kesana bersama beberapa teman (walaupun akhirnya batal).

Sempat saya sebutkan Ujung Kulon, tapi Mba Elly yang tinggal di Bogor menolak karena Ujung Kulon “bisa dikunjungi saat weekend”. Setelah beberapa lama, muncullah ide pergi ke Belitung, negeri Laskar Pelangi. Saya langsung mengiyakan. Dan malam itu juga, kami membeli dua tiket pesawat Cengkareng – Tanjung Pandan untuk tanggal 20 Juli 2015.

Continue reading