Surat yang Tak Dikirimkan

Beberapa waktu lalu teman saya menyarankan saya untuk menulis Surat untuk Papua. Sebuah (mungkin) program untuk menyampaikan surat bagi anak-anak (SD-SMP) di Sorong Selatan. Saya bersemangat menulis, tercipta beberapa surat, kemudian saya tidak yakin yang mana yang harusnya saya kirim.

Batas pengirimannya akhir Agustus 2016. Saya membuat surat ini pertengahan bulan. Berhubung penyakit nggak pedean sudah tingkat akut, akhirnya surat itu mengendap saja di laptop dan malah saya kirimkan ke teman saya tadi. Haha. Continue reading

Advertisements

Melihat Indonesia Lewat Kapal (2)

Barang-barang bersatu dengan manusia, dijaga bergiliran dan tidak jarang diletakkan di pinggir koridor. Bermacam bau dari benda yang tak diketahui asal serta bentuknya tentu saja ada, mengundang tanda tanya.

Seluruh lantai kapal seakan dihuni oleh manusia. Pepatah siapa cepat dia dapat berlaku secara harafiah dalam perebutan “tempat tidur” penumpang kelas bawah. Penumpang biasanya pergi berombongan agar bisa saling jaga, tetapi mereka yang sudah sering naik kapal ada yang pergi sendirian.

Cerita dari Kapal Dobonsolo masih berlanjut. Malam pertama (no, not in romantic meaning) setelah berjuang mengangkut badan dan barang, kami menyaksikan hal yang benar-benar belum pernah kami temui. Kecuali mungkin Pras yang sudah pernah traveling dengan kapal sebelumnya.

1394012_4164158040210_187232262_n

Apapun itu, bersama mereka, selalu menyenangkan

Continue reading

Melihat Indonesia Lewat Kapal (1)

Cahaya terang datang dari kapal di depan wajah. Bayangannya tampak anggun diterpa sinar matahari yang remang-remang. Suasana pelabuhan riuh, lalu lalang orang mengalahkan suara ombak yang menghantam dinding daratan.

Hari sudah hampir gelap ketika kami tiba di Surabaya. Pagi-pagi betul kami berangkat dari Jogja dengan dua minivan sewaan. Waktu itu hari Selasa. Di sanalah saya, bersama teman-teman, bersiap meninggalkan Pulau Jawa untuk sementara.

Keberangkatan kapal ditentukan dari seberapa cepat mereka selesai memasukkan bawang

Continue reading

Making A Delicious Strange Cake

The first time I went to Raja Ampat Regency was in early July this year.

At the “buka bersama” event (where people in Jefman Island, the island where I lived for about two months usually prepares snacks for iftar in the mosque), I taste a very delicious cake called Lontar. It was made of baked pie crust, topped with tasty mixture of milk, butter and eggs.

Making Lontar

Making Lontar

I made the cake with my friends and my host-mother together, to welcome the Idul Fitri. How fun and delicious!