Sekitar Mangunan, Imogiri

Halo. Hai.

Ini memang bukan hari Sabtu, sekalipun blog ini berjudul “halosabtu”. Tapi bolehlah saya menulis ketika ada waktu luang. Di sinilah saya, di rumah, dikunjungi batuk-pilek dan demam. Saya percaya penyakit ini datang untuk mengerem saraf impulsif saya (syukurlah ya, hahaha).

Minggu kemarin, saya kedatangan tamu istimewa. Pacar. Haha. Kami berencana main ke Kebun Buah Mangunan kala matahari terbit. Saya yang akhir-akhir ini terbiasa bangun pagi tetapi lanjut tidur lagi sampai agak siang, sedikit pesimis. Eh, nyatanya siap juga jam 3.30 pagi!

Sebenarnya saya sempat tidur sebentar sih, soalnya di luar hujan gerimis romantis begitu. Tapi apa daya keburu dijemput Firman, jadi ya terpaksa bangun deh. Keterpaksaan yang unyu, semacam terpaksa tapi sebenarnya disyukuri (semoga bisa dipahami). Ajaibnya, gerimis berhenti setelah kami bertemu. Cie. Kemudian berangkatlah kami. Salat subuh di masjid pinggir jalan. Bergelap-gelap di Yogyakarta. Ke arah selatan dengan motor matic warna biru.

Mendekati Kebun Buah Mangunan, banyak kendaraan di depan dan belakang kami. Jalannya menanjak, kami menjaga jarak dengan mobil di depan agar selamat ketika terjadi hal yang “iya-iya”. Sampai di tempat membayar retribusi, omooooo, ramai sekali lho! Orang-orang datang dengan motor dan mobil, sendiri maupun berombongan.

Demi sunrise di hari Minggu.

Waktu pertama kali saya datang ke sini, tempatnya masih sepi. Pemandangannya masih sama indahnya. Saat ini sudah ada titik-berfoto-dan-menikmati-pemandangan lain di sisi kanan tebing yang biasa muncul di newsfeed instagram itu. Warung-warungnya bertambah. Ada juga tetenger berupa tulisan “Kebun Buah Mangunan” di jalan masuk, pas untuk wisatawan berfoto ria. Sampai sekarang, saya tidak tahu dimana buah-buah di Kebun Buah Mangunan.

Pemandangan pagi itu adalah pemandangan manusia. Sinar matahari terhalang awan mendung, bahkan sampai kabut sudah tuntas hilang dari bukit di bawah sana. Kalau kamu suka melihat sunrise, kamu akan menyaksikan kabut pelan-pelan naik seiring terbitnya matahari.

Nah, singkat cerita kami mengeksplorasi beberapa bagian Kebun Buah, menjauh dari kerumunan manusia, cerita ngalor ngidul, dan kemudian memutuskan beralih ke objek wisata lain di Desa Mangunan.

Jalan pulang dari Kebun Buah Mangunan, sedikit berbeda dengan jalan menuju-nya. Kami dialihkan melewati perumahan penduduk dan sampai di persimpangan jalan utama, di sebelah semacam pohon besar dengan area parkir yang cukup luas. Kemudian dari situlah kami kembali ke jalan utama menuju kota.

Di tengah jalan, kami melihat plang bertuliskan “Objek Wisata Watu Lawang”. Hmm, apa itu ya? Berbeloklah kami ke arah yang dituju plang tadi. Dan, wow, rupanya ada tempat yang indah untuk melihat pemandangan dari atas bukit. Sepi pula. Wah! Tidak salah kalau keingintahuan menuntun pada keseruan yang baru. Kamipun berfoto ria, layaknya turis turis gawl. (Untuk foto di jembatan, kita wajib mengantre).

Sungai yang sama yang bisa dilihat dari Kebun Buah Mangunan, bukit yang sama yang ada di seberangnya, dan udara yang sama. Cukuplah membuat siapa bahagia. Kata bapak yang berjaga di situ, Watu Lawang ini dulunya salah satu tempat pertapaan (pertapaan siapa, saya lupa. Duh, hahaha…).

 

Puas melihat pemandangan, berfoto, bernyanyi dan berinteraksi dengan bapak tadi, kami berniat mengunjungi Hutan Pinus. Selagi langit cerah dan hati ceria, menikmati alam bersama adalah pilihan yang sangat baik.

Wisata lokal. Bagi saya, yang penting kali ini saya menghabiskan waktu bersama seseorang yang saya sayangi.

Hey, Sunday!

20160713_060901

Sun (has) rise from Timo’ Beach, Kemujan, Karimunjawa

This morning, I woke up hearing the sound of the rain falling from outside of my house. I guess that was my hometown’s turn, after it fell on Jakarta.

And birds are chirping a little late now, as they must be hiding when rain came. I assume.

I lied in my bed, slept again after hearing the sound of the rain falling from outside of my house. I got up and realized it was 9.30. I was supposed to be showering, getting dressed and eating my late-breakfast.

But no, I grabbed my cellphone once I opened my eyes. Replying messages and dealing with life. Or is it life? Which one is life? (But I guess the hustle bustle happening in my cellphone and the calming chirps after the rain were both ‘life’).

Anyway, this is Sunday. And I’m going nowhere but Jogja.

Last sunday I’m at my house. The week before, I went to Blitar. And other Sundays were just the same. I met people. I met life. I met the Sun.

Ah…so now I know why it is called Sunday. The day we can properly be thankful to God of seeing the Sun.

Stasiun Cipeundeuy

Pagi ini saya terbangun di kursi gerbong nomor 1.

Kereta memasuki jalur yang diapit dua bukit, kelihatan tanaman rumput berwarna cokelat membatasi pandangan kami. Menjulang. Kemudian kereta keluar dari lembah, perlahan kiri dan kanan terbukalah pembatas tadi. Pemandangan pegunungan dan sawah terasering. Begitu terus, berulang selepas Stasiun Banjar menuju Bandung.

Menjelang pukul 7, kereta melambat.

tumblr_nx25vuwKQk1siezozo1_540

Hey there!

Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita memasuki Stasiun Cipeundeuy!

Continue reading

Melihat Indonesia Lewat Kapal (1)

Cahaya terang datang dari kapal di depan wajah. Bayangannya tampak anggun diterpa sinar matahari yang remang-remang. Suasana pelabuhan riuh, lalu lalang orang mengalahkan suara ombak yang menghantam dinding daratan.

Hari sudah hampir gelap ketika kami tiba di Surabaya. Pagi-pagi betul kami berangkat dari Jogja dengan dua minivan sewaan. Waktu itu hari Selasa. Di sanalah saya, bersama teman-teman, bersiap meninggalkan Pulau Jawa untuk sementara.

Keberangkatan kapal ditentukan dari seberapa cepat mereka selesai memasukkan bawang

Continue reading