Gili Gili Gimana Gitu

“Kring…kring…,” dering “klakson” dengan suara khas klak klak sebuah cidomo terdengar dari belakang. Para pengendara sepeda (pengayuh sepeda mungkin lebih tepatnya) di depannya menepi. Kuda penarik cidomo melaju menyalip, dan sepeda-sepeda kembali ke jalurnya semula.

Continue reading

Advertisements

Before Lombok

(Hai! Ini adalah pembuka dari rangkaian tulisan (Perjalanan Lombok 2017)

Pulau di sebelah timur Bali, yang akhir-akhir ini semakin memenuhi pikiran saya. Lombok disebut-sebut dalam iklan “Ok Google”, hadiah undian Gramedia, bonus beli rumah dengan DP tertentu di Jogja, diskon boarding pass A*r*s*a, dan lain lain lainnya. Kurang ngehits apa coba?

Saya dan Firman sengaja membeli tiket penerbangan pukul 22.50 WIB dari Jakarta ke Bali. Tidak langsung ke Lombok, karena harganya, alamak, muahalll (maklum, masih saat-saat libur lebaran, suasana mudik!). Tiket ke Bali pada malam itu exceptionally expensive, masyaAllah, astaghfirullah, bisa 2x lipat tiket biasa, tapi masih lebih murah daripada ke Lombok langsung. Dari Terminal 2 Soetta, meluncur lah kami ke Denpasar. Pesawat pun tiba beberapa menit lebih awal dari jadwal (wooow…thanks AirAsia!).

Continue reading

What Will You Choose?

20170303_183504

May we make a good choice

During our trip at Sumba-Bali in early March, I met strangers—now acquaintances, who seemed to left deep impressions to us (Azka, Boni, me). It is that every time we part, they were all saying similar things, separately.

“I hope you will make good choice ahead.”

“I hope your life will be full of great choices.”

They somehow imply that this life is about our choices. Where you want to be, what you want to be, how you want to be. And those with all other questions will test our courage in taking risk in this life. Bravery, like people say.

What will you choose?

For us, we choose happiness, for everyone.

Dekat di Hati

Halo Sabtu 11 Maret 2017

Sabtu ini, seorang teman pulang dari perantauan ke Jakarta, namanya Firman (bukan Firman di cerita sebelumnya). Jadi kami memutuskan menghabiskan waktu bermalam minggu beramai-ramai ke Jogja. Kota ini tentunya familiar untuk kami, bertahun-tahun belakangan kami tinggal, kuliah, dan banyak berkegiatan di Jogja. Tapi sangat jarang kami bermain bersama sengaja mengunjungi destinasi wisata. Kali ini kami memutuskan untuk menjadi ‘turis’ hihihi.

Pukul 2 siang, kami berangkat dari Magelang, tentu sudah terlampau siang dengan kondisi jalan yang kurang lancar mengingat itu adalah hari sabtu dimana hampir semua orang keluar dari rumah masing-masing. Kami menghampiri satu teman kami di daerah Morangan Sleman, sekalian reuni, katanya. Rencana awal, kami ingin mengunjungi Candi Ratu Boko, namun tentunya kami terlambat karena sudah terlampau sore ketika tiba di candi. Lalu saya mengusulkan untuk pindah destinasi ke Candi Ijo yang ada di dekatnya, karena menurut saya sunset di Candi Ijo tidak kalah indah dari Candi Ratu Boko.

gambar : Matahari sudah terbenam, jadi kami tidak bisa memasuki area Candi Ijo. tapi pemandangan senja di tempat parkir sudah cukup menyenangkan untuk orang-orang yang bosan dengan rutinitas kota besar. Continue reading