What Will You Choose?

20170303_183504

May we make a good choice

During our trip at Sumba-Bali in early March, I met strangers—now acquaintances, who seemed to left deep impressions to us (Azka, Boni, me). It is that every time we part, they were all saying similar things, separately.

“I hope you will make good choice ahead.”

“I hope your life will be full of great choices.”

They somehow imply that this life is about our choices. Where you want to be, what you want to be, how you want to be. And those with all other questions will test our courage in taking risk in this life. Bravery, like people say.

What will you choose?

For us, we choose happiness, for everyone.

Dekat di Hati

Halo Sabtu 11 Maret 2017

Sabtu ini, seorang teman pulang dari perantauan ke Jakarta, namanya Firman (bukan Firman di cerita sebelumnya). Jadi kami memutuskan menghabiskan waktu bermalam minggu beramai-ramai ke Jogja. Kota ini tentunya familiar untuk kami, bertahun-tahun belakangan kami tinggal, kuliah, dan banyak berkegiatan di Jogja. Tapi sangat jarang kami bermain bersama sengaja mengunjungi destinasi wisata. Kali ini kami memutuskan untuk menjadi ‘turis’ hihihi.

Pukul 2 siang, kami berangkat dari Magelang, tentu sudah terlampau siang dengan kondisi jalan yang kurang lancar mengingat itu adalah hari sabtu dimana hampir semua orang keluar dari rumah masing-masing. Kami menghampiri satu teman kami di daerah Morangan Sleman, sekalian reuni, katanya. Rencana awal, kami ingin mengunjungi Candi Ratu Boko, namun tentunya kami terlambat karena sudah terlampau sore ketika tiba di candi. Lalu saya mengusulkan untuk pindah destinasi ke Candi Ijo yang ada di dekatnya, karena menurut saya sunset di Candi Ijo tidak kalah indah dari Candi Ratu Boko.

gambar : Matahari sudah terbenam, jadi kami tidak bisa memasuki area Candi Ijo. tapi pemandangan senja di tempat parkir sudah cukup menyenangkan untuk orang-orang yang bosan dengan rutinitas kota besar.

Tidak selesai di situ, kami memutuskan untuk makan bakmi Pak Pele, yang terkenal ramai itu. Ya, di Alun-alun utara Jogjakarta. Kami tiba di lokasi sekitar pukul 19.00 dan memesan makanan dengan estimasi menunggu giliran masak kurang lebih 1 jam, hahaha. Maka saya dan dua rekan perempuan saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke Masjid Gede sembari menunggu makanan jadi. 20170311_204020

Kami bertiga memutuskan untuk melaksanakan solat isya’, sekalian mumpung di masjid, dan mengagumi interior masjid yang menurut saya indah. Setelah selesai, kami kembali ke warung bakmi dan ternyata makanan milik teman-teman yang lain sudah habis hahaha. Pulanglah kembali kami ke Magelang setelah selesai menyantap makan malam bakmi Pak Pele yang relatif cepat pembuatannya.

Rupanya Jogja masih memiliki daya tarik tersendiri untuk saya. Memori-memori Jogja dan segala sudut kota Jogja selalu memberikan saya kesan yang mendalam. Mungkin itu juga yang membuat kami tidak pernah bosan-bosannya mengunjungi Jogja. 😀

Sangalaki – Sang Lelaki

Pernah mendengar tentang Sangalaki?

Ya, ini adalah nama sebuah pulau di Kepulauan Derawan yang terkenal itu.

Kalau kalian mendengar kata Derawan, apa yang pertama terlintas di pikiran kalian? Penyu? Taman laut yang indah? Danau ubur-ubur? Goa laut? Manta? Mantan? *eh haha

Ya semua yang saya sebutkan di atas memang bisa ditemukan di Derawan (entah kalau yang terakhir ^.^). Kawasan yang berbentuk kepulauan ini memiliki alam laut yang saaaangat kaya, mungkin salah satu yang terkaya di Indonesia. Ada 4 pulau utama yang menjadi destinasi pariwisata utama di kawasan ini, yaitu Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, dan Pulau Maratua.

Di Pulau Derawan, kita bisa dengan mudah menemukan Penyu yang sedang makan di perairan yang tidak jauh dari pantainya (penyu Derawan dikenal jinak, tidak takut dengan manusia). Di Pulau Kakaban kita bisa melihat danau ubur-ubur tidak menyengat (stingless jellyfish) dan berenang bersama mereka, dengan catatan pakailah pelampung dan bergeraklah perlahan sehingga ubur-ubur tidak terhempas oleh gerakan kita dan mati seketika itu juga, hiiyy. Nah kalau di Pulau Maratua, kita bisa menemukan goa laut, juga taman laut yang indah dan masih sehat-sehat.

Sedangkan Sangalaki, adalah pulau peneluran penyu terbesar di kawasan ini, sehingga kalau kita kesana di siang hari, jika beruntung kita bisa melihat tukik yang keluar dari sarang-sarang di sekeliling pulau, atau sekedar melihat tukik yang diselamatkan oleh petugas yang berjaga di sana. Jika mau menginap di Pulau Sangalaki (yang tarifnya lebih mahal daripada tiket pesawat Jogja-Berau), maka kita akan bisa berkesempatan ikut petugas untuk melihat penyu-penyu bertelur yang selalu terjadi di malam hari.

Kepulauan Derawan memiliki sejarah, atau lebih tepatnya legenda yang menjadi sumber dari nama-nama pulau di kawasani ini. Konon katanya, Derawan, Sangalaki, Kakaban, dan Maratua adalah keluarga. Derawan adalah ‘perawan’ atau wanitanya, Sangalaki adalah sang lelaki, Maratua adalah orang tua, dan Kakaban adalah kakak. Konon, si wanita akan menikah dengan sang lelaki, namun dalam perjalanan setelah mereka menikah mengalami musibah kecelakaan kapal di Pulau Panjang dan semua penumpang di dalamnya tewas termasuk orang tua dan si kakak. Saya sudah agak lupa bagaimana detail ceritanya namun itulah cerita yang pernah saya dengar dari orang setempat.

Pada tahun 2015, saya berkesempatan untuk mengikuti program internship dari salah satu NGO Internasional di Indonesia dalam program Konservasi Penyu. Tentu kalian bisa menebak kemana saya ditempatkan? Ya, di Pulau Sangalaki. Secara letak, pulau ini berdekatan dengan Pulau Semama (hanya sekitar 10 menit menggunakan speedboat) dan masih berada dekat dengan Derawan dan Kakaban, sekitar 20-30 menit menggunakan speedboat. Sangalaki adalah pulau paling kecil diantara beberapa pulau lainnya di kawasan Derawan dengan pantai berpasir dan daratan karang. Meski begitu pulau ini memiliki hutan kecil di tengahnya yang juga dihuni berbagai macam species burung, kepiting, dan yang paling banyak, Biawak!

Pulau ini tidak berpenduduk, hanya ada bangunan resort milik warga Tarakan, dan pos monitoring yang dibangun LSM bersama BKSDA Berau. Penghuni pulau ini hanyalah penjaga resort dan petugas monitoring penyu dari BKSDA yang berganti-ganti setiap 10 hari sekali. Tidak ada sumber air tawar di Pulau ini, sehingga pada musim kemarau seringkali petugas perlu membeli air tawar dari sumber terdekat, Derawan atau Tanjung Batu, bahkan tidak jarang mereka membawa dari Tanjung redeb dengan speedboat langsung melalui sungai. Mungkin pulau ini indah saat dikunjungi sebentar, tapi jika kalian membayangkan hidup di pulau ini untuk waktu yang lama, lebih baik jangan dibayangkan hahaha.

gambar : (kiri) penyu liar di perairan Sangalaki. (kanan) tukik yang diselamatkan petugas sebelah kiri bayi penyu hijau, sebelah kanan bayi penyu sisik

Di pulau ini, terdapat beberapa spot diving bagi penyelam. Bahkan penyuka snorkling. Perairan Sangalaki memiliki bawah laut yang cukup menarik, namun letaknya sekitar 100 meter dari bibir pantai. Kalian akan dengan mudah menemukan taman-taman terumbu karang yang masih baik dan ikan-ikan kecil berwarna warni. Di jam-jam tertentu, rombongan Manta Ray akan melewati perairan Sangalaki untuk makan karena akan sangat banyak plankton di perairan ini.

gambar : Manta yang sedang makan muncul di permukaan. Air terlihat keruh, karena banyaknya plankton yang berada di perairan ini. Jika ingin snorkling, harus sangat berhati-hati!! Pertama karena plankton menyebabkan gatal-gatal di tubuh kita, kedua ARUS perairan Sangalaki sangat kuat. Sehingga jangan sekali-kali sok berani, harus selalu waspada walaupun sudah sering melakukan kegiatan diving dan snorkling.

Jika berkunjung ke Pulau ini dalam rangkaian liburan di Kawasan Derawan,aktifitas yang bisa dilakukan adalah tentunya bermain air di pantai. Kalian juga bisa berfoto-foto di dermaga kayu, atau snorkling di dekat dermaga kayu yang sering kami sebut ‘jembatan’. Dan sekarang, ada tambahan aktifitas menarik lain yaitu menyusuri hutan Sangalaki. Jika beruntung, Kalian akan melihat berbagai macam jenis burung yang hidup di dalam hutan Sangalaki. Dan yang jangan lupa juga membayar retribusi resmi dari Kementerian Kehutanan kepada petugas BKSDA yang berjaga. Jumlahnya berbeda untuk wisatawan domestik dan mancanegara. 😉

Sekitar Mangunan, Imogiri

Halo. Hai.

Ini memang bukan hari Sabtu, sekalipun blog ini berjudul “halosabtu”. Tapi bolehlah saya menulis ketika ada waktu luang. Di sinilah saya, di rumah, dikunjungi batuk-pilek dan demam. Saya percaya penyakit ini datang untuk mengerem saraf impulsif saya (syukurlah ya, hahaha).

Minggu kemarin, saya kedatangan tamu istimewa. Pacar. Haha. Kami berencana main ke Kebun Buah Mangunan kala matahari terbit. Saya yang akhir-akhir ini terbiasa bangun pagi tetapi lanjut tidur lagi sampai agak siang, sedikit pesimis. Eh, nyatanya siap juga jam 3.30 pagi!

Sebenarnya saya sempat tidur sebentar sih, soalnya di luar hujan gerimis romantis begitu. Tapi apa daya keburu dijemput Firman, jadi ya terpaksa bangun deh. Keterpaksaan yang unyu, semacam terpaksa tapi sebenarnya disyukuri (semoga bisa dipahami). Ajaibnya, gerimis berhenti setelah kami bertemu. Cie. Kemudian berangkatlah kami. Salat subuh di masjid pinggir jalan. Bergelap-gelap di Yogyakarta. Ke arah selatan dengan motor matic warna biru.

Mendekati Kebun Buah Mangunan, banyak kendaraan di depan dan belakang kami. Jalannya menanjak, kami menjaga jarak dengan mobil di depan agar selamat ketika terjadi hal yang “iya-iya”. Sampai di tempat membayar retribusi, omooooo, ramai sekali lho! Orang-orang datang dengan motor dan mobil, sendiri maupun berombongan.

Demi sunrise di hari Minggu.

Waktu pertama kali saya datang ke sini, tempatnya masih sepi. Pemandangannya masih sama indahnya. Saat ini sudah ada titik-berfoto-dan-menikmati-pemandangan lain di sisi kanan tebing yang biasa muncul di newsfeed instagram itu. Warung-warungnya bertambah. Ada juga tetenger berupa tulisan “Kebun Buah Mangunan” di jalan masuk, pas untuk wisatawan berfoto ria. Sampai sekarang, saya tidak tahu dimana buah-buah di Kebun Buah Mangunan.

Pemandangan pagi itu adalah pemandangan manusia. Sinar matahari terhalang awan mendung, bahkan sampai kabut sudah tuntas hilang dari bukit di bawah sana. Kalau kamu suka melihat sunrise, kamu akan menyaksikan kabut pelan-pelan naik seiring terbitnya matahari.

Nah, singkat cerita kami mengeksplorasi beberapa bagian Kebun Buah, menjauh dari kerumunan manusia, cerita ngalor ngidul, dan kemudian memutuskan beralih ke objek wisata lain di Desa Mangunan.

Jalan pulang dari Kebun Buah Mangunan, sedikit berbeda dengan jalan menuju-nya. Kami dialihkan melewati perumahan penduduk dan sampai di persimpangan jalan utama, di sebelah semacam pohon besar dengan area parkir yang cukup luas. Kemudian dari situlah kami kembali ke jalan utama menuju kota.

Di tengah jalan, kami melihat plang bertuliskan “Objek Wisata Watu Lawang”. Hmm, apa itu ya? Berbeloklah kami ke arah yang dituju plang tadi. Dan, wow, rupanya ada tempat yang indah untuk melihat pemandangan dari atas bukit. Sepi pula. Wah! Tidak salah kalau keingintahuan menuntun pada keseruan yang baru. Kamipun berfoto ria, layaknya turis turis gawl. (Untuk foto di jembatan, kita wajib mengantre).

Sungai yang sama yang bisa dilihat dari Kebun Buah Mangunan, bukit yang sama yang ada di seberangnya, dan udara yang sama. Cukuplah membuat siapa bahagia. Kata bapak yang berjaga di situ, Watu Lawang ini dulunya salah satu tempat pertapaan (pertapaan siapa, saya lupa. Duh, hahaha…).

 

Puas melihat pemandangan, berfoto, bernyanyi dan berinteraksi dengan bapak tadi, kami berniat mengunjungi Hutan Pinus. Selagi langit cerah dan hati ceria, menikmati alam bersama adalah pilihan yang sangat baik.

Wisata lokal. Bagi saya, yang penting kali ini saya menghabiskan waktu bersama seseorang yang saya sayangi.

Surat yang Tak Dikirimkan

Beberapa waktu lalu teman saya menyarankan saya untuk menulis Surat untuk Papua. Sebuah (mungkin) program untuk menyampaikan surat bagi anak-anak (SD-SMP) di Sorong Selatan. Saya bersemangat menulis, tercipta beberapa surat, kemudian saya tidak yakin yang mana yang harusnya saya kirim.

Batas pengirimannya akhir Agustus 2016. Saya membuat surat ini pertengahan bulan. Berhubung penyakit nggak pedean sudah tingkat akut, akhirnya surat itu mengendap saja di laptop dan malah saya kirimkan ke teman saya tadi. Haha.

(Lucunya, diapun membalasnya juga).

Yogyakarta, 18 Agustus 2016

Halo! Apa kabar? Saya harap kamu baik dan sehat ketika membaca surat ini seperti saya ketika menuliskannya.

Salam kenal, nama saya Chaty. Saya kuliah di Yogyakarta. Saya suka menelusuri gua. Sewaktu kuliah, saya ikut organisasi bernama Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada atau Mapagama. Di situ, saya belajar cara yang aman untuk menelusuri gua. Kita harus menambatkan pengaman pada pohon atau batu di dekat mulut gua, kemudian disambungkan ke tali yang berat bernama tali kernmantle. Tali itu yang kita gunakan untuk turun ke kedalaman, dengan memanfaatkan alat-alat rumit dan memakai helm pengaman.

Untuk ke gua, kita harus pergi berombongan berhubung masuk gua sendiri sangat berbahaya. Melalui tali tadi, kita turun ke gua satu per satu. Oh iya, kita juga harus memakai senter bila ingin masuk ke gua, karena di dalam gua sangat gelap dan sulit untuk dapat melihat tanpa bantuan penerangan.

Kita juga harus memakai sepatu boots. Selesai turun melalui tali, kita akan sampai di dasar gua. Ada yang dasarnya berlumpur atau seperti rawa-rawa sehingga kaki kita akan terjebak. Ada juga bagian-bagian yang dasarnya keras.

Kemudian, kita bisa berjalan-jalan sesuai arah kemana gua itu menuju, asalkan tidak terlalu lama dan masih bisa bernapas. Kita akan menemui ruangan besar di dalam gua yang disebut chamber. Ada juga ornamen-ornamen gua seperti stalaktit, stalagmit, sodastraw, goursdam, dan lain-lain. Semuanya selalu membuat saya terpesona akan keindahan tersembunyi yang diciptakan Tuhan.

Di dalam gua, hidup binatang-binatang yang tidak takut gelap seperti kelelawar. Mereka biasa berdiri terbalik di langit-langit gua (bahkan mereka juga bergantung ketika tidur). Jangan sekali-kali menggoda mereka ya, nanti mereka bisa kaget dan membuat suara berisik yang menyeramkan!

Suasana di dalam gua sangat hening. Ketika waktu menjelajah sudah usai, kita harus bergiliran untuk naik ke atas melalui tali lagi. Harus satu-satu. Saat menunggu inilah, saya dan teman-teman suka menyanyi. Suara saya akan menggema menabrak dinding gua, seperti konser sendiri.

Seusai kegiatan, kami membasuh badan dan makan. Setelah itu, biasanya kita bisa bercerita seru dan bercanda. Menyenangkan sekali dapat belajar hal baru dengan usaha yang tidak mudah.

Sekian cerita dari saya. Semoga kamu bisa membayangkannya. Bagaimana di sana?

 

Salam hangat,
Chaty

Dari sekian banyak yang bisa saya ceritakan, saya memilih gua. Apa yang ada di pikiran saya waktu itu, sih? Haha. Balasan e-mail dari teman saya menyiratkan, “rumit amat sih”.

Selang dua hari setelah saya mengirim e-mail ini, saya bertugas survei ke Kabupaten Maybrat, Papua Barat selama seminggu. Di sana, sinyal internet sangat sulit (sinyal telepon juga hilang-timbul) sehingga saya tidak mem-follow up balasan dari teman saya sampai saya tiba di Sorong.

Secara ringkas, saya tidak sempat menyelesaikan surat untuk anak-anak Sorong Selatan, tapi saya tinggal di Maybrat yang letaknya berbatasan dengan Sorsel. Padahal bisa saja ya, saya kirim langsung saja sambil “mampir” ke Sorsel (ngimpi kaliiii). Toh, Maybrat juga pemekaran dari Sorsel.

Harapan yang aneh sih. Tapi biarlah, tidak perlu disesali karena semua bisa jadi cerita, dan saya bisa berkarya untuk kabupaten di sebelahnya dengan cara lain.

Selamat hari Sabtu!