Surat yang Tak Dikirimkan

Beberapa waktu lalu teman saya menyarankan saya untuk menulis Surat untuk Papua. Sebuah (mungkin) program untuk menyampaikan surat bagi anak-anak (SD-SMP) di Sorong Selatan. Saya bersemangat menulis, tercipta beberapa surat, kemudian saya tidak yakin yang mana yang harusnya saya kirim.

Batas pengirimannya akhir Agustus 2016. Saya membuat surat ini pertengahan bulan. Berhubung penyakit nggak pedean sudah tingkat akut, akhirnya surat itu mengendap saja di laptop dan malah saya kirimkan ke teman saya tadi. Haha.

(Lucunya, diapun membalasnya juga).

Yogyakarta, 18 Agustus 2016

Halo! Apa kabar? Saya harap kamu baik dan sehat ketika membaca surat ini seperti saya ketika menuliskannya.

Salam kenal, nama saya Chaty. Saya kuliah di Yogyakarta. Saya suka menelusuri gua. Sewaktu kuliah, saya ikut organisasi bernama Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada atau Mapagama. Di situ, saya belajar cara yang aman untuk menelusuri gua. Kita harus menambatkan pengaman pada pohon atau batu di dekat mulut gua, kemudian disambungkan ke tali yang berat bernama tali kernmantle. Tali itu yang kita gunakan untuk turun ke kedalaman, dengan memanfaatkan alat-alat rumit dan memakai helm pengaman.

Untuk ke gua, kita harus pergi berombongan berhubung masuk gua sendiri sangat berbahaya. Melalui tali tadi, kita turun ke gua satu per satu. Oh iya, kita juga harus memakai senter bila ingin masuk ke gua, karena di dalam gua sangat gelap dan sulit untuk dapat melihat tanpa bantuan penerangan.

Kita juga harus memakai sepatu boots. Selesai turun melalui tali, kita akan sampai di dasar gua. Ada yang dasarnya berlumpur atau seperti rawa-rawa sehingga kaki kita akan terjebak. Ada juga bagian-bagian yang dasarnya keras.

Kemudian, kita bisa berjalan-jalan sesuai arah kemana gua itu menuju, asalkan tidak terlalu lama dan masih bisa bernapas. Kita akan menemui ruangan besar di dalam gua yang disebut chamber. Ada juga ornamen-ornamen gua seperti stalaktit, stalagmit, sodastraw, goursdam, dan lain-lain. Semuanya selalu membuat saya terpesona akan keindahan tersembunyi yang diciptakan Tuhan.

Di dalam gua, hidup binatang-binatang yang tidak takut gelap seperti kelelawar. Mereka biasa berdiri terbalik di langit-langit gua (bahkan mereka juga bergantung ketika tidur). Jangan sekali-kali menggoda mereka ya, nanti mereka bisa kaget dan membuat suara berisik yang menyeramkan!

Suasana di dalam gua sangat hening. Ketika waktu menjelajah sudah usai, kita harus bergiliran untuk naik ke atas melalui tali lagi. Harus satu-satu. Saat menunggu inilah, saya dan teman-teman suka menyanyi. Suara saya akan menggema menabrak dinding gua, seperti konser sendiri.

Seusai kegiatan, kami membasuh badan dan makan. Setelah itu, biasanya kita bisa bercerita seru dan bercanda. Menyenangkan sekali dapat belajar hal baru dengan usaha yang tidak mudah.

Sekian cerita dari saya. Semoga kamu bisa membayangkannya. Bagaimana di sana?

 

Salam hangat,
Chaty

Dari sekian banyak yang bisa saya ceritakan, saya memilih gua. Apa yang ada di pikiran saya waktu itu, sih? Haha. Balasan e-mail dari teman saya menyiratkan, “rumit amat sih”.

Selang dua hari setelah saya mengirim e-mail ini, saya bertugas survei ke Kabupaten Maybrat, Papua Barat selama seminggu. Di sana, sinyal internet sangat sulit (sinyal telepon juga hilang-timbul) sehingga saya tidak mem-follow up balasan dari teman saya sampai saya tiba di Sorong.

Secara ringkas, saya tidak sempat menyelesaikan surat untuk anak-anak Sorong Selatan, tapi saya tinggal di Maybrat yang letaknya berbatasan dengan Sorsel. Padahal bisa saja ya, saya kirim langsung saja sambil “mampir” ke Sorsel (ngimpi kaliiii). Toh, Maybrat juga pemekaran dari Sorsel.

Harapan yang aneh sih. Tapi biarlah, tidak perlu disesali karena semua bisa jadi cerita, dan saya bisa berkarya untuk kabupaten di sebelahnya dengan cara lain.

Selamat hari Sabtu!

 

Hey, Sunday!

20160713_060901

Sun (has) rise from Timo’ Beach, Kemujan, Karimunjawa

This morning, I woke up hearing the sound of the rain falling from outside of my house. I guess that was my hometown’s turn, after it fell on Jakarta.

And birds are chirping a little late now, as they must be hiding when rain came. I assume.

I lied in my bed, slept again after hearing the sound of the rain falling from outside of my house. I got up and realized it was 9.30. I was supposed to be showering, getting dressed and eating my late-breakfast.

But no, I grabbed my cellphone once I opened my eyes. Replying messages and dealing with life. Or is it life? Which one is life? (But I guess the hustle bustle happening in my cellphone and the calming chirps after the rain were both ‘life’).

Anyway, this is Sunday. And I’m going nowhere but Jogja.

Last sunday I’m at my house. The week before, I went to Blitar. And other Sundays were just the same. I met people. I met life. I met the Sun.

Ah…so now I know why it is called Sunday. The day we can properly be thankful to God of seeing the Sun.

Kayu yang Baik

oleh Douglas Malloch

Pohon yang tidak pernah perlu berjuang
Untuk matahari dan langit dan udara dan cahaya,
Tetapi bertahan di atas tanah datar
Dan selalu mendapat hujan yang memang untuknya,
Takkan pernah ia menjadi raja hutan
Tetapi hidup dan matinya ialah benda hina.

Manusia yang tak pernah harus berpayah-payah
Untuk meraih kemudian bertani di sepetak tanah milik sendiri,
Tanpa sekalipun harus memperebutkan bagiannya
Atas matahari dan langit dan cahaya dan udara,
Takkan pernah ia menjadi manusia sejati
Tetapi hanya hidup kemudian mati ketika ia memulai.

Kayu yang baik tidak tumbuh dalam kemudahan:
Semakin kencang angin, semakin kuat pohonnya;
Semakin jauh langit dijangkau, semakin besar jarak panjangnya;
Semakin keras badai, semakin kuat ia.

Dengan terik dan dingin, dengan hujan dan salju,
Dalam pepohonan dan manusia bertumbuh kayu yang baik.
Dalam kerimbunan hutan bertumbuh,
Kita menemukan tetua dari keduanya.

Dan mereka mengadakan perundingan dengan bintang-bintang
Ranting-ranting patahnya menunjukkan banyak luka
Akibat angin dan perselisihan.
Inilah hukum adat dari kehidupan.

(saya mencoba menerjemahkan dari puisi “Good Timber” semampunya. “Manusia sejati” dalam teks aslinya adalah “manly man”)

Stasiun Cipeundeuy

Pagi ini saya terbangun di kursi gerbong nomor 1.

Kereta memasuki jalur yang diapit dua bukit, kelihatan tanaman rumput berwarna cokelat membatasi pandangan kami. Menjulang. Kemudian kereta keluar dari lembah, perlahan kiri dan kanan terbukalah pembatas tadi. Pemandangan pegunungan dan sawah terasering. Begitu terus, berulang selepas Stasiun Banjar menuju Bandung.

Menjelang pukul 7, kereta melambat.

tumblr_nx25vuwKQk1siezozo1_540

Hey there!

Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita memasuki Stasiun Cipeundeuy!

Continue reading