What Will You Choose?

20170303_183504

May we make a good choice

During our trip at Sumba-Bali in early March, I met strangers—now acquaintances, who seemed to left deep impressions to us (Azka, Boni, me). It is that every time we part, they were all saying similar things, separately.

“I hope you will make good choice ahead.”

“I hope your life will be full of great choices.”

They somehow imply that this life is about our choices. Where you want to be, what you want to be, how you want to be. And those with all other questions will test our courage in taking risk in this life. Bravery, like people say.

What will you choose?

For us, we choose happiness, for everyone.

Sekitar Mangunan, Imogiri

Halo. Hai.

Ini memang bukan hari Sabtu, sekalipun blog ini berjudul “halosabtu”. Tapi bolehlah saya menulis ketika ada waktu luang. Di sinilah saya, di rumah, dikunjungi batuk-pilek dan demam. Saya percaya penyakit ini datang untuk mengerem saraf impulsif saya (syukurlah ya, hahaha).

Minggu kemarin, saya kedatangan tamu istimewa. Pacar. Haha. Kami berencana main ke Kebun Buah Mangunan kala matahari terbit. Saya yang akhir-akhir ini terbiasa bangun pagi tetapi lanjut tidur lagi sampai agak siang, sedikit pesimis. Eh, nyatanya siap juga jam 3.30 pagi!

Sebenarnya saya sempat tidur sebentar sih, soalnya di luar hujan gerimis romantis begitu. Tapi apa daya keburu dijemput Firman, jadi ya terpaksa bangun deh. Keterpaksaan yang unyu, semacam terpaksa tapi sebenarnya disyukuri (semoga bisa dipahami). Ajaibnya, gerimis berhenti setelah kami bertemu. Cie. Kemudian berangkatlah kami. Salat subuh di masjid pinggir jalan. Bergelap-gelap di Yogyakarta. Ke arah selatan dengan motor matic warna biru.

Mendekati Kebun Buah Mangunan, banyak kendaraan di depan dan belakang kami. Jalannya menanjak, kami menjaga jarak dengan mobil di depan agar selamat ketika terjadi hal yang “iya-iya”. Sampai di tempat membayar retribusi, omooooo, ramai sekali lho! Orang-orang datang dengan motor dan mobil, sendiri maupun berombongan.

Demi sunrise di hari Minggu.

Waktu pertama kali saya datang ke sini, tempatnya masih sepi. Pemandangannya masih sama indahnya. Saat ini sudah ada titik-berfoto-dan-menikmati-pemandangan lain di sisi kanan tebing yang biasa muncul di newsfeed instagram itu. Warung-warungnya bertambah. Ada juga tetenger berupa tulisan “Kebun Buah Mangunan” di jalan masuk, pas untuk wisatawan berfoto ria. Sampai sekarang, saya tidak tahu dimana buah-buah di Kebun Buah Mangunan.

Pemandangan pagi itu adalah pemandangan manusia. Sinar matahari terhalang awan mendung, bahkan sampai kabut sudah tuntas hilang dari bukit di bawah sana. Kalau kamu suka melihat sunrise, kamu akan menyaksikan kabut pelan-pelan naik seiring terbitnya matahari.

Nah, singkat cerita kami mengeksplorasi beberapa bagian Kebun Buah, menjauh dari kerumunan manusia, cerita ngalor ngidul, dan kemudian memutuskan beralih ke objek wisata lain di Desa Mangunan.

Jalan pulang dari Kebun Buah Mangunan, sedikit berbeda dengan jalan menuju-nya. Kami dialihkan melewati perumahan penduduk dan sampai di persimpangan jalan utama, di sebelah semacam pohon besar dengan area parkir yang cukup luas. Kemudian dari situlah kami kembali ke jalan utama menuju kota.

Di tengah jalan, kami melihat plang bertuliskan “Objek Wisata Watu Lawang”. Hmm, apa itu ya? Berbeloklah kami ke arah yang dituju plang tadi. Dan, wow, rupanya ada tempat yang indah untuk melihat pemandangan dari atas bukit. Sepi pula. Wah! Tidak salah kalau keingintahuan menuntun pada keseruan yang baru. Kamipun berfoto ria, layaknya turis turis gawl. (Untuk foto di jembatan, kita wajib mengantre).

Sungai yang sama yang bisa dilihat dari Kebun Buah Mangunan, bukit yang sama yang ada di seberangnya, dan udara yang sama. Cukuplah membuat siapa bahagia. Kata bapak yang berjaga di situ, Watu Lawang ini dulunya salah satu tempat pertapaan (pertapaan siapa, saya lupa. Duh, hahaha…).

 

Puas melihat pemandangan, berfoto, bernyanyi dan berinteraksi dengan bapak tadi, kami berniat mengunjungi Hutan Pinus. Selagi langit cerah dan hati ceria, menikmati alam bersama adalah pilihan yang sangat baik.

Wisata lokal. Bagi saya, yang penting kali ini saya menghabiskan waktu bersama seseorang yang saya sayangi.

Surat yang Tak Dikirimkan

Beberapa waktu lalu teman saya menyarankan saya untuk menulis Surat untuk Papua. Sebuah (mungkin) program untuk menyampaikan surat bagi anak-anak (SD-SMP) di Sorong Selatan. Saya bersemangat menulis, tercipta beberapa surat, kemudian saya tidak yakin yang mana yang harusnya saya kirim.

Batas pengirimannya akhir Agustus 2016. Saya membuat surat ini pertengahan bulan. Berhubung penyakit nggak pedean sudah tingkat akut, akhirnya surat itu mengendap saja di laptop dan malah saya kirimkan ke teman saya tadi. Haha.

(Lucunya, diapun membalasnya juga).

Yogyakarta, 18 Agustus 2016

Halo! Apa kabar? Saya harap kamu baik dan sehat ketika membaca surat ini seperti saya ketika menuliskannya.

Salam kenal, nama saya Chaty. Saya kuliah di Yogyakarta. Saya suka menelusuri gua. Sewaktu kuliah, saya ikut organisasi bernama Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada atau Mapagama. Di situ, saya belajar cara yang aman untuk menelusuri gua. Kita harus menambatkan pengaman pada pohon atau batu di dekat mulut gua, kemudian disambungkan ke tali yang berat bernama tali kernmantle. Tali itu yang kita gunakan untuk turun ke kedalaman, dengan memanfaatkan alat-alat rumit dan memakai helm pengaman.

Untuk ke gua, kita harus pergi berombongan berhubung masuk gua sendiri sangat berbahaya. Melalui tali tadi, kita turun ke gua satu per satu. Oh iya, kita juga harus memakai senter bila ingin masuk ke gua, karena di dalam gua sangat gelap dan sulit untuk dapat melihat tanpa bantuan penerangan.

Kita juga harus memakai sepatu boots. Selesai turun melalui tali, kita akan sampai di dasar gua. Ada yang dasarnya berlumpur atau seperti rawa-rawa sehingga kaki kita akan terjebak. Ada juga bagian-bagian yang dasarnya keras.

Kemudian, kita bisa berjalan-jalan sesuai arah kemana gua itu menuju, asalkan tidak terlalu lama dan masih bisa bernapas. Kita akan menemui ruangan besar di dalam gua yang disebut chamber. Ada juga ornamen-ornamen gua seperti stalaktit, stalagmit, sodastraw, goursdam, dan lain-lain. Semuanya selalu membuat saya terpesona akan keindahan tersembunyi yang diciptakan Tuhan.

Di dalam gua, hidup binatang-binatang yang tidak takut gelap seperti kelelawar. Mereka biasa berdiri terbalik di langit-langit gua (bahkan mereka juga bergantung ketika tidur). Jangan sekali-kali menggoda mereka ya, nanti mereka bisa kaget dan membuat suara berisik yang menyeramkan!

Suasana di dalam gua sangat hening. Ketika waktu menjelajah sudah usai, kita harus bergiliran untuk naik ke atas melalui tali lagi. Harus satu-satu. Saat menunggu inilah, saya dan teman-teman suka menyanyi. Suara saya akan menggema menabrak dinding gua, seperti konser sendiri.

Seusai kegiatan, kami membasuh badan dan makan. Setelah itu, biasanya kita bisa bercerita seru dan bercanda. Menyenangkan sekali dapat belajar hal baru dengan usaha yang tidak mudah.

Sekian cerita dari saya. Semoga kamu bisa membayangkannya. Bagaimana di sana?

 

Salam hangat,
Chaty

Dari sekian banyak yang bisa saya ceritakan, saya memilih gua. Apa yang ada di pikiran saya waktu itu, sih? Haha. Balasan e-mail dari teman saya menyiratkan, “rumit amat sih”.

Selang dua hari setelah saya mengirim e-mail ini, saya bertugas survei ke Kabupaten Maybrat, Papua Barat selama seminggu. Di sana, sinyal internet sangat sulit (sinyal telepon juga hilang-timbul) sehingga saya tidak mem-follow up balasan dari teman saya sampai saya tiba di Sorong.

Secara ringkas, saya tidak sempat menyelesaikan surat untuk anak-anak Sorong Selatan, tapi saya tinggal di Maybrat yang letaknya berbatasan dengan Sorsel. Padahal bisa saja ya, saya kirim langsung saja sambil “mampir” ke Sorsel (ngimpi kaliiii). Toh, Maybrat juga pemekaran dari Sorsel.

Harapan yang aneh sih. Tapi biarlah, tidak perlu disesali karena semua bisa jadi cerita, dan saya bisa berkarya untuk kabupaten di sebelahnya dengan cara lain.

Selamat hari Sabtu!

 

Hey, Sunday!

20160713_060901

Sun (has) rise from Timo’ Beach, Kemujan, Karimunjawa

This morning, I woke up hearing the sound of the rain falling from outside of my house. I guess that was my hometown’s turn, after it fell on Jakarta.

And birds are chirping a little late now, as they must be hiding when rain came. I assume.

I lied in my bed, slept again after hearing the sound of the rain falling from outside of my house. I got up and realized it was 9.30. I was supposed to be showering, getting dressed and eating my late-breakfast.

But no, I grabbed my cellphone once I opened my eyes. Replying messages and dealing with life. Or is it life? Which one is life? (But I guess the hustle bustle happening in my cellphone and the calming chirps after the rain were both ‘life’).

Anyway, this is Sunday. And I’m going nowhere but Jogja.

Last sunday I’m at my house. The week before, I went to Blitar. And other Sundays were just the same. I met people. I met life. I met the Sun.

Ah…so now I know why it is called Sunday. The day we can properly be thankful to God of seeing the Sun.