Morinda di Sumba Timur

Aku duduk selonjor di teras. Azka memandang kosong ke depan, dengan kaki-kaki terselip di antara sekat pagar. Boni bersila di kursi. Firman dan Om Bai sudah tiba di penginapan kami jam 9.

Mereka meminta maaf karena bangun terlambat hingga tidak bisa datang pagi sekali seperti yang dijanjikan semalam. Kami buru-buru berkata bahwa hal itu bukanlah jadi masalah. Morinda memberikan kami sambutan meriah di pagi hari.

Sebenarnya, pagi itu aku pertama terbangun oleh cicit burung liar. Saat itu, aku adalah pekerja 8-to-5 yang hidup sendiri, sehingga tubuhku sudah terbiasa mengatur dirinya bangun jam setengah-5 untuk salat subuh. Di luar masih gelap ketika aku beranjak dari tempat tidur, tersandung sudut meja kecil di bawah sakelar, meraba-raba tembok untuk menyalakan lampu kamar mandi dan berwudhu. Perlu waktu cukup lama untuk mengatur posisi salat dan sedikit berdoa.

Aku tak bisa tidur lagi setelah salat, aneh, dan memutuskan menunggu sampai ada tanda-tanda matahari naik sedikit, lalu keluar duduk di teras. Kamar kami ternyata menempel di lereng bukit dengan jendela dan pintu teras membelakangi jalan utama.

Morinda03

Sesaat aku terenyak melihat pemandangan di depanku, mengucek mata sedikit untuk membersihkan sisa kotoran di sana, dan duduk di lantai kayu. Indah sekali! Matahari masih dalam perjalanan naik, kabut masih bergerak lambat dari bukit di sebelah kiriku. Tepat di bawah depan kamar kami adalah sungai yang kanan-kirinya rumput hijau. Sungai itu berkelok malas jauh dari penginapan kami. Samar-samar, dari jauh bawah, aku mendengar suara sapi (“Moo!”) dan ayam-ayam beserta rentetan percakapan Bahasa Sumba.

“Wow,” aku berkali-kali mendesah dan tersenyum. Mengambil napas panjang, aku tambah tersenyum dan mengeluarkannya pelan-pelan, seolah sulit melepas segarnya udara yang kuhirup pagi itu.

Aku bangunkan kedua temanku, yang rupanya sudah terbangun sendiri, dan kami bertiga sejenak hilang dalam kebisuan di teras. Malam yang penuh bintang, sangat gelap, rupanya menyembunyikan keelokan pemandangan di sini! Karena itulah kami betah berlama-lama, sekalipun tetap menggerundel kelaparan ketika sarapan belum tersaji. Villa Morinda dikelilingi bentangalam yang indah.

 

 

Kurasa, kami bangun terlalu pagi.

 

Photo: ©Azka
Sumba, 4 Maret 2017
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s