Gili Gili Gimana Gitu

“Kring…kring…,” dering “klakson” dengan suara khas klak klak sebuah cidomo terdengar dari belakang. Para pengendara sepeda (pengayuh sepeda mungkin lebih tepatnya) di depannya menepi. Kuda penarik cidomo melaju menyalip, dan sepeda-sepeda kembali ke jalurnya semula.

Saya berada di Gili Trawangan. Pulau yang touristy banget dan terkenal seantero jagat raya (ngga juga sih..). Berada di sana seperti berada tidak-di-Indonesia. Di pinggir jalan tepi pantai, wisatawan asing lebih banyak daripada wisatawan domestik. Saya ke sini murni karena penasaran dengan pulau mungil ini, dan cara terbaik untuk menikmatinya adalah dengan bersepeda keliling pulau.

 

Picture1

Suasana biasa di jalanan Gili Trawangan

Penginapan yang kami tinggali berada di jalan masuk ke bagian dalam pulau, segaris dengan dermaga fast boat, dekat dengan penginapan lainnya yang semua “kenampakannya” unyu. Hampir semua akomodasi di Gili Trawangan memang baik dan terawat. Turis bujet rendah seperti kami tidak khawatir akan kualitas penginapan yang harganya terjangkau.

Selepas jam empat sore, pemilik penginapan menganjurkan saya untuk menaiki sepeda ke arah barat di sore hari, untuk menikmati sunset di Villa Ombak. Wow, tentu saja saya langsung tancap gas, eh, tancap pedal sepeda.

Angin sore itu begitu segar. Selaras menemani sengatan matahari yang panas di bulan Juli. Kami melewati sebuah jalan setapak dengan pohon-pohon setinggi dua meter di kanan-kiri sebagai pembatas dan kanopi. Di ujung jalan, kami tiba di jalan “lingkar luar” pulau disambut musik yang keras dari speaker. Musiknya diperdengarkan untuk pengunjung resort.

Kami terus mengayuh ke arah barat, arah matahari yang melambai-lambai menuju sunset. Melewati tempat-tempat yang disediakan khusus oleh hotel dan resort untuk menikmati matahari terbenam. Beda penyedia, beda pula lagu yang di-stel. Saya benar-benar ada di dunia lain. Rasanya, inilah liburan yang hakiki!

Picture2

Orang-orang yang menikmati senja

Kami memutuskan duduk di dekat Hotel Villa Ombak dan menikmati senja dengan memperhatikan orang-orang yang menikmati senja. Ada yang berfoto di ayunan di laut, berkuda, jalan-jalan, atau sekadar duduk-duduk seperti kami. Ah, damainya. Foto sunset-nya bisa dilihat di instagram saya, instagram orang-orang yang pernah ke sana, atau di website. Tapi, foto yang paling indah adalah yang kamu ambil sendiri, dengan segala kenangan di dalamnya.

Di malam hari, kami mengunjungi pasar sentral atau pasar seni yang letaknya dekat dengan dermaga. Tempat itu ramai, penuh turis. Banyak seafood yang dijajakan, membuat kami tergoda menikmatinya. Liburan di pulau tanpa makan seafood rasanya seperti sayur tanpa garam gitu kan? Jadilah kami membeli 2 cumi-cumi ukuran besar dan seporsi besar udang ukuran sedang, semuanya dibakar dan dibalut bumbu spesial. Ketika membayar, ternyata harganya Rp200.000,00. Oh My God!

Satu pelajaran berharga adalah bertanya sebelum membeli. Pelajaran berharga kedua adalah, bagi siapapun backpacker seperti kami, sebaiknya cukup beli nasi campur di Gili Trawangan.

Menikmati malam di Gili Trawangan tidak kalah menyenangkan. Berhubung kami bukan tipe yang suka ajep-ajep, kami tidak turut serta masuk bar atau pub dan berpesta sampai pagi. Cukup jalan-jalan di pinggir pantai dan menikmati keramaian dari jauh. Ada pula bioskop tepi pantai setiap Sabtu malam, tetapi kami memutuskan tidak ikut nonton.

Esok paginya, kami masih bermalas-malasan di penginapan hingga pukul 10. Sebelumnya, kami sempat bingung apakah akan menghabiskan hari dengan menyelam atau sekadar snorkeling di 3 Gili. Tetapi semua buyar!

Kami lebih memilih bersepeda keliling pulau, mampir di salah satu restoran yang pernah muncul di TV (Youn’s Kitchen), Stand Up Paddling (SUP), dan snorkeling di sekitaran pulau untuk bertemu penyu.

Kita dapat menyewa papan SUP seharga Rp100.000,00 untuk 1 jam pemakaian. Ini pengalaman pertama saya “main” SUP. Ternyata menyenangkan! Cukup dayung sampai agak ke tengah, berdiri di atas papan, hup, lalu lanjut dayung sambil berdiri. Ombak tidak begitu besar sehingga mudah mengontrol pergerakan papan.

20170701_143716

Semua orang bisa SUP!

SUP adalah salah satu hal yang wajib dicoba kalau kamu ke Gili Trawangan. Kami memakai 1 papan untuk dipakai bergantian, karena awalnya tidak yakin apakah bisa ber-SUP ria. Kemudian kami menaiki 1 papan berdua ketika sudah mahir.

“Ah, penyu!” Kata Firman. Ia kemudian mendayung ke arah tempat ia melihat penyu. Saya ikut bersemangat, “Mana? Mana?”

Kami mengejar si Penyu.

Byur! Papan kami terbalik. Kami jatuh dari papan, si Penyu pun hilang dari pandangan. Kami bergegas mengambil alat snorkeling di sepeda dan kembali ke TKP untuk bertegur sapa dengan Penyu. Setelah sekitar 30 menit mencari bolak balik sampai jauh, kami menyerah dan kembali ke tepi.

Bapak penyewa menyambut kami, “Ah, bagaimana? Lihat penyu tidak? Tadi kalian saya panggil panggil tapi tidak dengar, sudah jauh!”

“Tidak ketemu penyu, sudah hilang.”

“Nah, padahal tadi penyu itu dekat sekali di depan sini, tapi kalian sudah jauh jadi tidak dengar suara saya.”

“Yaaaaah…”

Kami kecewa sementara bapak itu tersenyum geli dengan nasib kami. “Tidak apa-apa, lain kali bisa coba bertemu lagi,” katanya. Ia juga bercerita bahwa kita bisa ke Gili Meno menggunakan kayak sewaan, harga sewanya kurang-lebih sama dengan harga sewa SUP. Karena hari sudah sore dan kami perlu kembali ke Lombok, niat itu urung dilakukan.

Jadi, ada yang mau mengajak saya ke Gili Trawangan lagi? Saya bersedia, dan hal yang sangat ingin saya lakukan adalah kayaking ke Gili Meno plus melihat penyu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s