Manggar

Manggar sering disebut-sebut dalam cerita Ikal si anak Laskar Pelangi. Konon, Manggar adalah tempat nongkrong favorit para pekerja penambang timah usai bekerja. Mereka akan mengobrol ringan sambil menyeruput kopi di warung sederhana.

Bertahun kemudian, kebiasaan ngupi pascakerja tersebut menjadi budaya yang menjadi daya tarik khusus Manggar. Mereka menyebut Manggar kota 1001 warung kopi. Kenapa 1001? Seperti Lawang Sewu dan Kepulauan Seribu, tujuannya kemungkinan besar untuk menggambarkan banyaknya warung-warung kupi yang tersebar di Manggar (yang saya tidak tahu pasti berapa jumlahnya). Manggar juga punya lambang kota, semacam Sura & Baya-nya Surabaya gitu. Bentuknya bisa ditebak, tidak jauh-jauh dari julukannya: teko kopi!

02

“Kota” 1001 Warung Kopi

(22 Juli 2015 — Sudah hampir setahun sejak saya berkunjung, dan tulisan tentang Belitong tidak kunjung saya selesaikan. Self reminder: harus rajin nulis!)

List kunjungan di Kabupaten Belitung Timur adalah Museum Kata dan replika SD Muhammadiyah Gantong. Tapi dalam traveling, spontanitas yang bertanggung jawab menjadi semacam keharusan. Kamipun mampir ke Manggar.

Selamat datang di Manggar, dimana hampir semua blok adalah warung kopi.

Saat itu bertepatan dengan liburan-lebaran. Beberapa warung kopi tutup dan yang lain juga tidak terlalu banyak pengunjung. Laju sepeda motor dipelankan, kami melewati bundaran dengan patung teko dan biji kopi berada tepat di tengahnya.

Kanan warung, kiri warung, depan pasar, tapi sepi. Kemudian warung lagi. Dan warung lagi. Kami berputar-putar sejenak, lalu melihat sebuah warung kopi yang lumayan ramai orang, namanya Warung Kopi Atet.

“Mun lum ngupi, lum sampai Manggar”

Jam setengah dua siang, kami beranjak ngopi ke Warkop Atet setelah menyantap Ikan gangan di seberangnya.

Menurut papan informasi, Warung Kopi Atet merupakan warung kopi pertama di Kota Manggar. Berdiri sejak tahun 1949 (4 tahun setelah proklamasi, orang sudah ngupi!). Didirikan oleh Tjhie A Fuk dan dahulu dikenal dengan nama “Kedai Kopi Afuk”. Papan informasi di sebelahnya memuat menu yang ditulis dwibahasa. Ada logonya pula, semacam starbucks begitu, tapi yang ini lebih keren (mending lihat langsung di tempatnya aja deh).

image

Suasana ngupi di Atet

Di sebelahnya lagi, terbaca sebuah cuplikan kalimat: “Mun Lum Ngupi, Lum Sampai Manggar” (Kalau kamu belum Ngopi, artinya kamu belum sampai Manggar). Begitu eratnya hubungan kopi dengan Manggar, sampai-sampai tidak sah orang disebut sudah ke Manggar kalau belum ngupi di sana.

Kalau di Jogja, saya lebih senang ngopi saat malam hari. Biasanya, kebiasaan minum kopi tumbuh diawali dari kebutuhan untuk lembur tugas (hehe) atau ngobrol santai atau diskusi serius (dimana kopi bisa menyantaikan suasana yang terlalu serius) atau sekadar untuk memanfaatkan wifi demi berselancar di dunia maya (demi update blog juga). Di banyak warung kopi atau kafe, mereka membolehkan kita memilih bijih kopi, yang untuk menentukan pilihan kita dipersilakan mengendus-endus dulu aromanya. Sedap.

Kopi di sini rupanya dibawa dari Lampung. Kopi robusta. Saya tidak melihat cara mereka meraciknya, asumsi saya sih mirip peracik kopi Aceh, disaring. Berhubung saya bukan ahli perkopian, bagi saya rasanya lezat. Ditambah excitement karena ini pertama kalinya saya ngupi di Manggar, Belitung Timur, tempat dimana budaya ngopi sangat dihargai, kelezatannya jadi berlipat ganda. Ada sedikit keinginan juga untuk kapan-kapan menginap di Manggar.

Tidak ada menu cappuccino, espresso, latte atau lain-lain yang terdengar fancy semacam itu (yang artinya selalu saya lupa dan selalu harus saya tanyakan pada Sagita atau Audra, kawan-kawan saya pencinta kopi). Menunya sederhana, mudah dimengerti artinya dan saya suka. Asem asem sedikit, lalu harum.

image

Itu dia kopi kami

Penduduk Bangka-Belitung asalnya dari berbagai suku dan budaya, ada keturunan Tionghoa, Melayu, Jawa, dan seterusnya. Latar belakang mereka berbeda, tapi hobi sama: ngupi. Kopi dan warung kopi ternyata lambang persatuan di sini.

Karena itu, esensi kopi di sini adalah pelengkap ritual mengobrol—sepertinya begitu. Ngupi sama dengan nge-gaul. Atau memang sengaja dilestarikan biar jadi ciri khas, biar bisa mengobati rasa rindu warga Manggar yang kembali dari perantauan di suatu waktu. Kalaupun suatu hari ada menu-menu rumit itu, saya pikir tidak buruk juga.

Kami bertiga mengobrol tentang Belitong dan rencana-rencana beberapa hari ke depan, sambil mengamat-amati orang-orang lain mengobrol pula di warung yang sama. Ngupi sore-sore ternyata nikmat juga, walaupun tidak sampai langit beranjak ke senja kami sudah pergi ke masjid untuk salat dan berkendara pulang. Masih ada satu perhentian lagi sebelum makan malam.

Setelah berdiri lebih dari 6 dekade, Warkop Atet telah menyajikan kopi dari dan untuk generasi ke generasi dengan cita rasa yang sama seperti sejak pertama kali berdiri.

Saya membayangkan melintas jalan, melihat bapak-bapak menyeruput kopi di warung ini, 60-an tahun yang lalu. Mengobrolkan hasil tambang pagi ini, atau berkabar mengenai bininya yang mau melahirkan. Adakah dulu, para perempuan juga sering ngupi di senjakala di warung-warung kopi Manggar? Iya atau tidak, saya beruntung bisa ngupi sampai di sini.

Iya, saya sudah di Manggar.

Advertisements

2 thoughts on “Manggar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s