Senja di Tanjung Binga

Awalnya seperti sebuah lukisan besar kemudian semakin terbatas jarak pandang kami saat semakin dekat pada ujung batas darat dan laut. Kami menjadi bagian dari lukisan indah itu, pelan-pelan.

DSC_0498

Senja

(21 Juli 2015)

Ada sebuah kampung nelayan di Belitung Barat. Namanya Tanjung Binga.

Sepulang dari Tanjung Tinggi, kami sempatkan mampir ke masjid untuk mandi kemudian salat. Setelah itu, dengan berbagai pertimbangan, kami mencoba untuk sunsetan di Tanjung Binga.

Dari jalan besar, ada beberapa plang yang mengarahkan kami menuju ke tujuan yang akan kami pilih (cara ini juga yang kami gunakan untuk menemukan Tanjung-tanjung lainnya). Motor berbelok ke arah Tanjung Binga, seperti yang ditunjukkan arah panah putih di papan penunjuk jalan.

Motor kami mendaki jalan yang sedikit terjal, selepas melewati perkampungan yang lengang. Tanjakan selesai dan kami meluncur di jalan turunan. Di depan, tersajilah pemandangan laut di belakang rumah-rumah kayu khas pesisir, perkampungan yang berlatarkan laut tenang, beberapa pohon kelapa berdiri menancap di pasir putih.

Awalnya seperti sebuah lukisan besar kemudian semakin terbatas jarak pandang kami saat semakin dekat pada ujung batas darat dan laut. Kami menjadi bagian dari lukisan indah itu, pelan-pelan.

Motor berbelok ketika terlihat sebuah dermaga memanjang di sisi kanan jalan. Perlahan, kami menuju tepi pemandangan cantik langit sore, kapal-kapal nelayan ditambatkan rapi di sekeliling dermaga.

Indah sekali.

Luas benar terbentang di depan, dan rasanya kami adalah titik kecil yang dikelilingi laut. Langit sudah berubah menjadi jingga. Air laut sebagian bercampur warna dengan sinar matahari dari barat. Ah, indah sekali.

(Sebelum mencapai dermaga tadi, sempat saya melihat tulisan posko KKN UGM unit Tanjung Binga. Ah, suasana yang sendu sendu gimana gitu, ditambah melihat lambang UGM, rasanya entah kenapa tenteram. Seperti ketika kita hadir di sebuah acara yang kebanyakan pesertanya tidak kita kenal, kemudian rupanya ada salah satu teman juga hadir di sana)

Kami memarkir motor di ujung dermaga. Kemudian memandang matahari tenggelam, terlarut dalam pikiran (dan smartphone) masing-masing. Lebih tepatnya, saya terlarut dalam pikiran saya sendiri dan kedua teman saya sibuk mengambil foto. Suasana dermaga membuat saya teringat Pulau Jefman, pulau kecil di Kabupaten Raja Ampat yang pernah saya kunjungi beberapa tahun lalu. Bukan pulau wisata, tapi bagi saya tetap ngangenin.

(Kemudian saya pun ikut berfoto. Dan hampir semua gelap. Hahaha)

Hari sudah mulai gelap. Senja yang sangat indah di Tanjung Binga. Bila suatu saat saya bisa lebih lama di Belitung, mungkin saya akan mengunjungi Tanjung Binga, dengan “mengada-adakan tujuan lain” selain berwisata.

Andai kami lebih lama lagi di Tanjung Binga, mungkin kami bisa memancing sotong bersama bapak-bapak sekitar. Menjebak beberapa ikan dengan cahaya temaram lampu teplok. Sambil berbincang mengenai harga beras dan solar, kiprah pejabat setempat, saudara mana akan menikah dengan siapa, dan perihal anak-anak sekolah yang segera memasuki tahun ajaran baru. Di bawah bintang-bintang.

Tapi hari sudah malam dan saatnya beristirahat. Sampai jumpa, Belitung Barat!

(Pulangnya, badan agak gak enak dan saya minum minuman ber-vitamin C)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s