Di Barat Belitung

Hari kedua kita snorkeling dan berenang di pantai dan melihat batu-batu. Kira-kira begitu bunyi pesan Mba Elly via WhatsApp, jauh sebelum saya menginjakkan kaki di bandara Tanjung Pandan.

image

Mercusuar Pulau Lengkuas

(21 Juli 2015)

Tanjung Pandan adalah kota di Pulau Belitung. Ramai (tapi jangan bandingkan dengan ramai-nya kota di Jawa, ya). Dekat pelabuhan. Dekat bandara. Dekat pantai. Banyak kuliner menarik. Banyak hotel dan penginapan. Banyak pertokoan. Ada bundaran batu satam.  Ada ATM-ATM. Dan ada KFC.

Satu malam di Tanjung Pandan rasanya kurang. Tetapi, kami punya jadwal jalan-jalan hari kedua yang sudah didiskusikan secara sepihak dan disetujui secara aklamasi via WhatsApp (terima kasih WhatsApp).

(Sudah tiga kali saya menyebutkan WhatsApp. Sekarang jadi empat kali. Haha).

Dari penginapan pertama, kami berencana pindah ke penginapan lain di Jalan Dipati Endek. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah demi menghemat biaya akomodasi. Walaupun dipikir-pikir, selisih harganya tidak terlalu jauh. Dengan berat hati saya memberi tahu ibu pemilik penginapan bahwa kami akan check out pagi itu dan check in di tempat lain untuk lebih “merasakan” (kenapa ya saya tidak memberitahukan alasan lain yang lebih keren? Ndak jelas banget ini). Kalau bilang kami akan pulang, tidak mungkin juga, karena kami masih akan menyewa motor milik penginapan selama satu hari. Semoga, dengan senyum yang tulus, ibu pemilik tidak tersinggung.

Sepertinya tidak, malahan beliau menujukkan peta wisata Belitung bagian barat dan timur. Bagian barat adalah yang akan kita jelajahi hari ini. Deretan pantai-pantai yang sudah ada spesialisasinya sendiri. Misalnya, kalau mau snorkeling berangkatnya lewat pantai ini, kalau mau menikmati batu-batu di pantai ini, dan seterusnya.

Berangkatlah kami ke Pantai Tanjung Kelayang. Dengan petunjuk jalan sederhana, dua motor kami menyusuri jalanan Belitong yang mulus lus lus dan sepi pi pi. Anginnya agak lengket dan di pesisir pantai dekat Tanjung Pandan banyak terlihat hotel-hotel yang menawarkan paket bulan madu. Aw, andaikan saya kesini dengan Nicholas Saputra, ya.

Tiba di Pantai Tanjung Kelayang, orang-orang terlihat duduk menghadap laut di bangku warung-warung. Kapal bejejeran hingga memenuhi bibir pantai, tapi manusia tidak ada. Kata mas mas di situ, pagi ini sedang ada acara bersih desa di Belitung Barat. Selesai acara itulah, jejeran kapal ini akan dioperasikan. Dan katanya sih, semua sudah booked oleh wisatawan. Waduh.

Singkat cerita, bertemulah kami dengan Pak Hasbi yang bersedia ditebengin kapal-nya. Beliau membawa keluarga besar dari Bangka jalan-jalan di Belitung. Tambahan 3 orang baginya bukan masalah.

image

Pak Hasbi

Keluarga Pak Hasbi juga baik, mereka seru sekali bermain air di spot snorkeling dekat mercusuar. Saya menceburkan diri ke laut Belitung dan mulai melihat-lihat melalui lensa masker. Bahagia rasanya melayang-layang di perairan dan bercengkerama dengan beberapa ikan.

Terumbu karang di Belitung lumayan beragam. Hanya saja, aktivitas snorkeling tidak begitu khidmat karena banyak sekali orang snorkeling dalam waktu bersamaan di sana. Kami foto-foto menggunakan kamera pinjaman dan emm banyak gagal nya. Tidak apa, karena memang baru belajar.

Saat beristirahat di Pulau Lengkuas, mercusuar sedang dalam perbaikan sehingga kami tidak naik ke atas. Kami berfoto di batu-batu besar yang cantik di pesisir pulau. Di sana juga sedang ada anak KKN UGM yang sedang mendirikan posko kesehatan. Saya sempat mendekat dan mengobrol sedikit. Beberapa hari sebelumnya saya mendapat kontak anak UGM yang juga dapat giliran berjaga di posko Lengkuas, tapi mereka tidak mengenalnya (mungkin beda unit). Yang jelas, saya merasa tuwir, karena yang ada di sana rata-rata junior lebih muda 3-4 tahun. Hahaha.

image

Acara di Pulau Lengkuas adalah berfoto ria di pelosok batuan. Langit begitu biru dan keramaian di bibir pantai rupanya tidak mengganggu kesunyian di daerah batuan-batuan cantik di sisi lain pantai. Usai puas bereksplorasi di Pulau Lengkuas, kami mengunjungi gosong, dan batu pacaran. Di sini, banyak sekali batu-batu besar. Semuanya dinamai sesuai kemiripannya dengan suatu bentuk, misalnya batu garuda, batu dll.

image

Di perjalanan pulang, kami menyempatkan mampir ke pesisir pantai lain dan terutama ke Pantai Tanjung Tinggi, pantai nya Laskar Pelangi. Saat itu suasana sangat amat ramai jadi kami memutuskan foto sunset dengan latar belakang keramaian. Hari semakin sore, waktunya untuk membersihkan diri dan beribadah sebelum pulang ke rumah sementara di Tanjung Pandan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s