Hari Pertama di Belitung

Sudah beberapa bulan yang lalu saya ke Belitung dan sekitarnya, tapi baru sekarang sempat menulis. Bukan tidak ada waktu, hanya tidak ada niat. Maka begitu niat datang, saya sandera dia sampai paling tidak cerita pertama selesai saya kerjakan. Semoga hari kalian menyenangkan.

There

Awalnya, Mba Elly mengajak saya bermain ke Karimunjawa. Waktu itu kurang dari sebulan sebelum Idul Fitri. Kami berencana memanfaatkan libur panjang kantor untuk backpacking ria ke dunia baru.

“Yang lainnya Mba, bulan berikutnya aku mau ke Karimunjawa bareng teman-teman SMP,” kata saya waktu itu. Memang, rencananya akhir Agustus saya kesana bersama beberapa teman (walaupun akhirnya batal).

Sempat saya sebutkan Ujung Kulon, tapi Mba Elly yang tinggal di Bogor menolak karena Ujung Kulon “bisa dikunjungi saat weekend”. Setelah beberapa lama, muncullah ide pergi ke Belitung, negeri Laskar Pelangi. Saya langsung mengiyakan. Dan malam itu juga, kami membeli dua tiket pesawat Cengkareng – Tanjung Pandan untuk tanggal 20 Juli 2015.

Kami “menjaring” teman-teman untuk ikut bertualang dengan gaya Mba Elly (yang by the way baru saya kenal 2 bulan sebelumnya melalui pertemuan singkat di workshop kantor). Dan peserta tambahan yang didapat hanya Firman. Awalnya ada Mba Sisca dan Mas Iko yang berniat ikut, tapi ternyata mereka berhalangan. Saya (dan katanya sih, Firman juga) belum pernahbackpacking dengan perencanaan minim seperti waktu ke Belitung ini.Rencana kami: bertemu di Cengkareng, mengatur trip kemudian. Yang jelas kami pergi via udara, pulang jalan darat, dan untuk saya sendiri, tiket kereta Senja Utama Jakarta – Jogja tanggal 26 Juli sudah di tangan, jadi batas waktu untuk main kita wajib tahu sendiri lah, ya.

Oh, dan kami juga sudah buru-buru booking tiket promo kereta bisnis Kertapati – Tanjung Karang (Palembang-Lampung) tanggal 24 Juli malam. Harganya 75.000 per orang. Mba Sisca sudah membeli tiket kereta ini tetapi tiketnya terpaksa hangus karena dia tidak berangkat (dan tidak sempat mengurusrefund juga).

Saya anggap tanggal 20 Juli adalah hari pertama. Pesawat saya dan Mba Elly dijadwalkan berangkat pukul 14.30 dari Cengkareng, sedangkan pesawat Firman pukul 15.00.

Jam 11, Mba Elly menelepon saya, katanya dia sudah di terminal 1. Waduh, saya saja baru pulang dari indomaret, membeli sisir dan pembalut (penting untuk emergency!). Saya meneruskan packing. Kali ini saya menggunakan backpack 25 liter, tas selempang untuk barang yang perlu cepat diambil, dan satu tas jinjing/ totebag yang isinya oleh-oleh.

Selepas zuhur, saya berangkat dengan mobil ke Bandara Soekarno-Hatta, bersama adik saya (dia yang menyetir), ibu, kakak sepupu saya dan anaknya. Perjalanan ke terminal 1 diwarnai drama kebablasan dan harus putar balik dua kali. Gara-gara kebablasan, mobil dibawa lurus terus sampai ke sebuah jalan layang memutar. Kami memilih jalan ke bawah yang ternyata menuju ke arah pembangunan yang ditutup.

Singkat cerita, kami terpaksa berputar ke jalan sebelumnya, dan memilih jalan yang lain kemudian berputar ke arah terminal 1 dan syukurlah masuk area terminal 1 dan mencari tempat parkir dan berjalan kaki ke terasnya (sebutannya apa sih?) dan ber-wefie ria untuk menghilangkan cemberut di muka keponakan saya dan bertemulah kami dengan kedua teman perjalanan saya.

Keponakan saya umurnya 3 tahun, sejauh ini belum punya saudara, dan selalu sedih kalau tante atau teman-temannya meninggalkan dia.

“Tante jangan pergi,” katanya di rumah sebelum berangkat.

“Tapi tante sudah beli tiket pesawat,”
“Tante sini aja main sama Apip,” nama aslinya Rafif, panggilan sayangnya Abang atau Apip.
“Tante mau diajak kemana?” tanya saya.
“Nanti ke mal lucu,” balasnya, sebelum setuju untuk ikut ibunya mengantar tantenya ini ke bandara.

Mal lucu yang dia sebut adalah semua mal yang ada tempat bermain anak. Kalau tidak salah, akhir-akhir ini dia sering main ke Mal Aeon.

Aduh Rafif, tante kangen!

Hasil We-fie

Kira-kira jam 1 siang, saya sampai di terminal 1. Kami bertemu di depan ATM BNI, pamit ke keluarga dan bersama-sama masuk untuk check in. Bertiga, kami mengantre di counter Sriwijaya Air. Saat boarding pass diberikan, saya dan Mba Elly mendapat nomor penerbangan dengan kode awal SJ, sedangkan Firman kodenya NM. Loh, kok bisa beda ya? Pikir saya. Kami berspekulasi mungkin NM ini pesawat yang lebih kecil.

Dan benar saja, ternyata NM itu adalah kode penerbangan untuk Nam Air, “anak”-nya Sriwijaya Air, yang rata-rata kapasitas seat di pesawatnya lebih kecil.

“Ih kereeen,” kata saya dan Mba Elly. Di kepala saya, memang seru naik maskapai yang imej-nya nggak mainstream.

Kami menunggu lamaaaaaaaaaaa sekali. Seperti biasa pesawat mengalamidelay. Kami sempat ber-wefie ria (ceritanya uji coba pakai tongsis, berhubung kami bertiga bukan expert tongsis), salat, ngemil, dan sedikit mengobrol. Oh ya, maaf karena akan ada banyak wajah kami bertiga di post ini.

Another we-fie, sekaligus ujicoba memakai tongsis

Saat itu, kami bertiga belum terlalu mengenal satu sama lain. Memang kami satu LSM, tetapi cuma bertemu ketika workshop tiga hari di Bogor pada akhir Mei 2015. Di situ pun saya tidak banyak berinteraksi dengan mereka. Suatu kali, saya makan malam bersama Mba Elly di satu meja. Lalu, dia bercerita tentang hobi travellingnya, dan saya spontan minta diajak kalau dia ingin travelling—terutama yang backpacking alias low budget.

Saya kenal Firman karena setelah workshop, kami mengikuti training untuk staf baru. Selama kira-kira 3 hari itu kami berinteraksi. Kemudian kami bertemu kembali di Cengkareng hari itu, Senin, 20 Juli 2015.

Pesawat saya dan Mba Elly delay parah—baru pukul 16.00 berangkat. Sementara pesawat Firman berangkat duluan. Di pesawat, saya dan Mba Elly haha-hehe melihat pramugara yang mukanya cakep. Saya duduk di sebelah seorang remaja yang berwisata ke Belitung bersama keluarganya yang asal Bangka. Wah, saya jadi ingat keluarga saya, terutama adik saya. Saya dan Azka sama-sama suka jalan-jalan, tapi kami belum pernah backpackingataupun naik gunung bersama, selalu dengan komunitas masing-masing.

Firman menunggu di bandara H.A.S. Hanandjoeddin. Jam 5 sore barulah kami berkumpul, kemudian kebingungan mencari angkot. Ha-ha.

Rupanya, di sekitaran bandara sudah tidak ada angkutan sore hari. Padahal jarak ke penginapannya lumayan jauh. Emm… sebenarnya kami juga belum tahu mau menginap dimana. Berbekal internet telepon seluler, Mba Elly menyebut nama penginapan tua di Tanjung Pandan (yang kata seorang bapak tua, memang disanalah penginapan pertama di Belitung!). Untuk mengembalikan energi positif, kami mengujicoba pemakaian tongsis dan kamera sekali lagi, dilatari matahari yang tenggelam dan patung Hanandjoeddin (eh benar gak ya?).

Karena melihat tiga turis dari Jawa yang tidak berhasil mendapat tumpangan, seorang pegawai Angkasapura bernama Pak Andre (Pak Andreee, we miss you) berbaik hati memberikan tumpangan sampai ke Hotel Citra. Tempatnya enak, di seberang KFC, dekat ATM BCA, dekat Mie Atep, dekat toko kelontong, dan ada televisi. Haha. Kami mandi, jajan, dan menyusun strategi bermain malam itu. Pak Andre pergi bersama bakpia yang kami beri sekadar untuk berterima kasih.

Makan malam kami adalah Mie Atep, sebuah warung mie yang (konon) terkenal di Tanjung Pandan. Di sana ramai pengunjung dan di hari-hari berikutnya pembelinya tetap ramai. Menurut saya, melihat banyaknya penikmat Mie Atep yang sudah berumur, banyak pengunjung datang ke sana untuk nostalgia selama libur lebaran ini. Kecuali memang para turis yang keposeperti kami.

Makan Mie Atep

Mie Atep ini rasanya tidak biasa. Manis. Seperti saya (hoek). Haha, bercanda. Mie Atep memang rasanya manis, lebih manis daripada gudeg Jogja. Mba Elly dan Firman keduanya keturunan Minang, terbiasa dengan masakan pedas. Dan persoalan rasa manis ini kelak menjadi bahan bully-an untuk saya yang asli Jawa, karena masakan Jawa hampir semuanya manis manis. Lebih lagi saya memang tidak suka masakan pedas, walaupun bisa makan pedas sampai batas tertentu.

Setelah makan, kami berjalan ke arah bundaran yang, wuaw, di tengahnya ada sebuah batu misterius. Menggunakan jurus turis ramah dan senyum menawan, kami bercakap dengan bapak-bapak di kantor polisi bundaran. Awalnya menanyakan arah ke pantai, dan kemudian diberi tahu bahwa batu di tengah bundaran, yang namanya Batu Satam, konon merupakan pecahan meteorit yang sempat jatuh di Pulau Belitung ini. Di beberapa hari berikutnya kami juga mengetahui bahwa Batu Satam sangat populer di sini, ikon-nya Belitung banget.

Batu Satam

Bundaran Batu Satam ini bisa difungsikan sebagai ruang bermain publik. Saat kami kesana, ada satu keluarga dengan beberapa anak kecil sedang bermain dan berfoto. Mereka bermain lari-larian di sekitar patung ikan tongkol di sebelah kolam air yang airnya mancur ke arah si Batu Satam di atas pilar. Semburatnya bisa berubah warna, dan di sekitarnya banyak lampu sorot untuk memfasilitasi pengunjung yang akan bermain (atau sekadar foto-foto).

Di sebelah Batu Satam, ada patung ikan tongkol juga

Untuk menuju pantai, kami berjalan ke arah pantai (ya iyalah). Nama jalannya Jalan Gegedek, dan kami menyeberangi jembatan Siburik (kalau tidak salah) kemudian jalannya berganti nama menjadi Jalan Kemuning. Di Jalan Kemuning inilah kami melewati sebuah kedai kopi yang sudah tutup, dan beberapa warung gaul Belitung lainnya. Sampailah kami di Pantai Tanjung Pendam yang terang dan banyak orang di area resto-nya. Karena kami berjalan kaki, petugas tidak memungut biaya. Hanya yang masuk dengan sepeda motor atau mobil yang dipungut biaya.

Pantai ini sepertinya pantai gaul-nya masyarakat Tanjung Pandan. Ada bar, ada juga area bermain anak-anak, ada warung makan banyak sekali, dan pastinya di sini bisa menggalau sore-sore meratapi IPK yang nggak cumlaude. Berhubung kami ke sana malam hari, pemandangan laut begitu gelap dan hanya terlihat beberapa orang turun ke bibir pantai untuk mencari udang. Udaranya lengket khas pinggir laut, dan bau pesisir menemani saya melihat cahaya kedip kedip di kejauhan malam itu. Walaupun cuma sebentar sih.

Pulangnya, kami melewati jalan berbeda yang tembus ke sebuah gang dekat kedai kopi Kong Djie yang tutup tadi. Kami sempat tanya-tanya harga penginapan di sekitaran pantai (dan tidak lupa harga merica—karena kata Dina, teman saya yang KKN di Belitung dulu, pulau ini terkenal dengan merica-nya). Tidak lupa kami berfoto di depan Grand Hatika hotel (sepertinya saya dan Mba Elly sedang gila waktu itu) walaupun hasilnya blur.

Malam itu kami membeli es krim untuk ngemil dan berbincang sebelum bersiap ke perairan di sebelah barat Pulau Belitung besok. Tidak apa-apa untuk tidak memiliki itinerary yang strict (malah biasanya kalau terlalu strictnggak asik kan?), tapi saya harus pastikan ada rencana bila waktu yang dimiliki untuk libur terbatas. Selebihnya saya menikmati sapaan Belitung yang ramah dan kotanya yang sederhana. Rasa penasaran akan pantai dan pengaruh Laskar Pelangi akan terjawab esok hari. Yeaaaay!

(Es krimnya tidak habis sehingga terpaksa dititipkan ke kulkas induk semang)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s