Melihat Indonesia Lewat Kapal (2)

Barang-barang bersatu dengan manusia, dijaga bergiliran dan tidak jarang diletakkan di pinggir koridor. Bermacam bau dari benda yang tak diketahui asal serta bentuknya tentu saja ada, mengundang tanda tanya.

Seluruh lantai kapal seakan dihuni oleh manusia. Pepatah siapa cepat dia dapat berlaku secara harafiah dalam perebutan “tempat tidur” penumpang kelas bawah. Penumpang biasanya pergi berombongan agar bisa saling jaga, tetapi mereka yang sudah sering naik kapal ada yang pergi sendirian.

Cerita dari Kapal Dobonsolo masih berlanjut. Malam pertama (no, not in romantic meaning) setelah berjuang mengangkut badan dan barang, kami menyaksikan hal yang benar-benar belum pernah kami temui. Kecuali mungkin Pras yang sudah pernah traveling dengan kapal sebelumnya.

1394012_4164158040210_187232262_n

Apapun itu, bersama mereka, selalu menyenangkan

 (Episode Kelas Ekonomi. masih 2-6 Juli 2013.)

Di suatu siang (dan siang berikutnya), terlihat petugas membentak penumpang. Biasanya yang “kena” adalah mereka yang tidak membawa tanda pengenal atau tidak membawa tiket. Bisa jadi korban kehilangan tiket, atau memang penumpang gelap (beralasan tiket hilang sebagai excuse kabur dari hukuman).

Makanan untuk penumpang ekonomi nggak mengenyangkan perut para mahasiswa sehingga kami selalu jajan di kantin. Sebungkus pop mie hangat harganya Rp10.000,00, segelas energen harganya Rp5.000, dan limabiji bakso kuah tanpa mie (ini makanan paling mewah) dijual Rp15.000,00.

tumblr_inline_o3mkni8YFY1sn2gmw_540

Tangga menuju kantin kapal

Kapal, membuat para mahasiswa ini terbiasa akan beberapa hal: pop mie dan energen menjadi “jajanan” sehari-hari yang nikmat. Berbagai macam orang dengan logat dan perilaku berbeda kami temui di atas kapal dan di sekitar pelabuhan, membuka mata betapa asingnya Indonesia yang selama ini kami semua pelajari di ruang kelas.

Sayangnya, warga negara maritim ini belum sadar akan tindakan yang menimbulkan ancaman bagi lingkungan. Kami melihat jelas bagaimana sampah dibuang ke laut lepas, bagaimana manusia dan barang berdesakan tanpa ada pembatasan, bagaimana kurangnya keamanan saat berangkat maupun di dalam kapal.

Empat hari itu terasa berat dengan fasilitas kapal yang jauh dari nyaman, dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk mengubahnya. Satu-satunya yang menguatkan kami adalah bahwa kami bersama-sama di sini, menuju tempat tujuan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

(By the way, kormanit kami, Kaka, selalu khawatir dan selalu SMS/telepon setiap hari karena takut kami hilang di lautan. Haha. Untung kami selamat :D)

Perjalanan di kapal, dengan segala keterbatasan, membuat kami dekat satu sama lain. Terpisah jauh dari keluarga dan kesibukan kampus, hanya berbekal kepercayaan diri dan saling mengandalkan teman, kami bisa bertahan. Saya sendiri belajar, dengan pergi ke “luar”, melihat dan mengalami, kita akan mendapat wawasan. Merasakan bahwa negara ini membutuhkan para pembawa perubahan: kita.

Jangan dipikir muluk-muluk ah. Kepedulian, itulah titik tolak yang paling penting.

Di kapal, saya diajari main cabsa dan remi. Saya mencatat urutan skor tertinggi dalam permainan kartu dan mengerti apa itu full house. Dek adalah tempat favorit kami, dan favorit Asta—yang lebih memilih tidur di koridor tepi kapal daripada di kasur bawah. Dia sakit dan mual-mual selama di kapal. Hanya berbagi kebahagiaan yang bisa kami lakukan.

Kenangan akan kebahagiaan itu kadang diselingi dengan kenangan akan kokok ayam di ruang kelas ekonomi yang membangunkan kami entah jam berapa mereka mau berkokok. Ayam? Iya, ayam 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s