Melihat Indonesia Lewat Kapal (1)

Cahaya terang datang dari kapal di depan wajah. Bayangannya tampak anggun diterpa sinar matahari yang remang-remang. Suasana pelabuhan riuh, lalu lalang orang mengalahkan suara ombak yang menghantam dinding daratan.

Hari sudah hampir gelap ketika kami tiba di Surabaya. Pagi-pagi betul kami berangkat dari Jogja dengan dua minivan sewaan. Waktu itu hari Selasa. Di sanalah saya, bersama teman-teman, bersiap meninggalkan Pulau Jawa untuk sementara.

Keberangkatan kapal ditentukan dari seberapa cepat mereka selesai memasukkan bawang

(Episode Bawang Merah. 2 – 6 Juli 2013.)

Saya dan teman-teman menjadi satu dengan kuli angkut, penumpang VIP, penumpang kelas satu hingga kelas ekonomi, petugas jaga pelabuhan, tukang bersih-bersih, anak kecil, remaja, orang tua, dan orang-orang yang kelihatannya kikuk akan atmosfer pelabuhan. Kenapa mereka semua ada di sini, hanya mereka dan Tuhan yang mengerti. Malam itu, seakan semua orang tumpah ruah di dalam satu ruang yang hidup: pelabuhan.

Kapal Dobonsolo rupanya sudah merapat beberapa jam sebelum kami datang. Kami turun dari mobil dan segera menjadi bagian meriahnya suasana Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Gerumulan orang yang sudah menanti di ruang tunggu pelabuhan berdesakan naik melalui tangga, lebarnya hanya cukup dilalui dua orang secara bersamaan—satu orang naik dan satu orang turun. Barang bawaan tidak tanggung-tanggung: koper besar, tas ransel, dan beberapa koper lain. Fully packed.

Inilah mungkin salah satu alasan banyak penjaja tenaga ada di pelabuhan. Jangan salah, mereka legal lho. Lihat saja seragam dan nomor yang ada di punggungnya. Bukan, mereka bukan pemain sepak bola, tetapi kuli angkutresmi dari pelabuhan.

Malam itu, kami menunggu berkarung-karung bawang merah dimasukkan ke dalam kapal. Jadwal keberangkatan molor dari yang tertera di tiket, dan satu-satunya kegiatan yang masih terlihat di sekitar kapal adalah dimasukkannya puluhan karung bawang merah di dalam kapal.

Karung bawang merah—yang juga berwarna merah—berbentuk jaring yang diikat sana-sini dengan tali rafia. Berat sekarung bawang bisa mencapai lebih dari 10 kg.

Ada sebuah alat (yang saya tidak tahu namanya) untuk mengangkut tumpukan karung bawang merah yang diletakkan di atas papan kayu. Tumpukan tersebut dinaikkan hingga ketinggian tertentu untuk bisa dimasukkan melalui bagian kapal yang terbuka di sisi yang menghadap pelabuhan. Bawang merah dimasukkan, karung demi karung. Di atas tumpukan tadi, ada minimal dua orang memegang kait besi untuk melempar karung—dengan susah payah—ke dalam kapal. Beberapa orang dalam kapal akan menatanya secepat kilat.

Keberangkatan kapal ditentukan dari seberapa cepat mereka selesai memasukkan bawang 

Oh ya, karung bawang tidak mencegah bau bawang keluar dari dalamnya. Saking banyaknya, bau yang ditimbulkan lumayan lebay dan berpotensi menimbulkan hoek-hoek alias muntah. Bau inilah yang akan menemani perjalanan para penumpang kapal, termasuk kami, selama empat hari.

Empat hari. Bersama bawang. It’s gonna be fun, right?

Kapal akhirnya berangkat jam 11 malam. Sinyal operator seluler mulai sulit ditangkap sekitar 15 menit sejak bertolak dari Surabaya. Kami berdoa untuk keselamatan semua dan mengucap salam pamit ke yang terkasih melalui telepon atau SMS. Pengalaman baru menanti!

“Kami” adalah saya dan teman-teman yang berjumlah 16. Kami semua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang akan berangkat ke Sorong, Papua Barat untuk ber-Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama dua bulan di Kabupaten Raja Ampat. Saya, Indah, Tya, Rere, Pras, Punto, Taufik, Aldi, Remon, Agung, Ditas, Mamet, Didi, Aji, Asta, dan Ical memilih berangkat naik kapal bersama beberapa kardus barang kebutuhan unit. Selain karena harganya lebih murah dibanding pesawat, saya pribadi ingin merasakan sensasi naik kapal. Lumayan, mumpung banyak teman.

Di Sorong, teman-teman se-unit yang sudah naik pesawat tiba lebih dulu dan mengurus ini-itu. Mereka menunggu barang-barang untuk kebutuhan program yang kami bawa dengan kapal. Ada juga 6 teman yang berangkat belakangan dengan pesawat, karena masih ujian sekaligus mengurus administrasi di Jogja.

Rute perjalanan kami adalah Jakarta – Surabaya – Makassar – Bau-bau – Sorong, ditempuh normal dalam 4 hari 3 malam. Jadi, perkiraan kami tiba adalah Sabtu siang di Pelabuhan Sorong. Di malam keberangkatan, setelah merasakan pengapnya berdesakan, berebut giliran dan mengangkut barang dari darat ke kapal, kami akhirnya menemukan tempat tidur untuk semalam: koridor luar dek kapal. Maklum, dengan tiket ekonomi, sulit untuk mendapat “lapak” nyaman dalam kapal bila tidak menunggu jauh sebelum kapal merapat (boro-boro dapat kamar).

Bukan menakut-nakuti, bukan berarti naik kapal itu sangat mengerikan. Nggak kok, naik kapal itu menyenangkan, apalagi bersama teman-teman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s